Farhani Tegaskan Standarisasi bukan Sertifikasi

Semarang (Inmas) – Peran Penyuluh Agama dalam Dakwah Islam di Era Global diangkat sebagai tema stadium general sebagai pembukaan kuliah semester genap Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang. Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah, Farhani hadir sebagai narasumber di Aula I Kampus, Rabu (01/03).

Penyuluh Agama adalah orang yang bertugas menyampaikan program pemerintah dengan bahasa agama, melaksanakan kegiatan keagamaan dan penyuluhan dengan menggunakan bahasa agama. Lebih dari 4.600 penyuluh agama Islam non PNS tersebar diseluruh kecamatan se-Jawa Tengah. Berbagai permasalahan dakwah di era global antara lain pornografi/ pergaulan bebas, sebagai dampak negatif teknologi informasi. Radikalisme sebagian kelompok yang menginginkan perubahan secara instan, termasuk perilaku dai yang kurang tepat sehingga memunculkan isu standarisasi khatib.

Menjelaskan tentang standarisasi ini, Kakanwil mengimbau agar materi dakwah tidak menjelekkan kelompok tertentu, materi dakwah yang menyinggung masalah khilafiyah, mengandung unsur kepentingan politik, dan merongrong kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Apakah pemerintah harus diam saja menghadapi fenomena ini?. Menjawab pertanyaan ini, Kakanwil menegaskan bahwa pemerintah harus hadir dan memfasilitasi hal ini agar tidak semakin menambah resah Jemaah (masyarakat). Salah satu upaya meminimalisir adakah memberikan rambu-rambu terhadap materi dakwah. “Standarisasi materi, bukan sertifikasi,” tegas Farhani.

Fakultas Dakwah sebagai lembaga pendidikan pencetak dai yang memiliki potensi yang sangat besar untuk syiar Islam, sangat terbuka kesempatan berkoordinasi untuk mengisi kebutuhan pendidikan agama pada masyarakat baik sebagai penyuluh maupun khatib.

“Saya sangat menyambut baik bila ada sinergi harmonis yang nyata antara Kementerian Agama dengan Fakultas Dakwah dengan harapan permasalahan dakwah kedepan dapat diantisipasi dan diatasi,” pungkasnya. (fat/gt)