FKUB wahana strategis kerukunan umat

Wonogiri – Indonesia adalah Negara plural, keberagaman yang ada di Indonesia yang tidak ternilai harganya adalah suatu kekayaan bangsa. Keberagaman yang jika terjaga dengan baik akan tampak seperti mozaik yang indah, tetapi jika sebaliknya maka segala bentuk perbedaan yang ada akan menjadi senjata yang bisa memecah belah bangsa Indonesia. Keberagaman harus di maknai dengan arif dan bijak sehingga bisa menjadi alat menggapai suatu kebahagiaan.

Belakangan ini kita sering mendengar gesekan dan konflik antar umat beragama. Masyarakat begitu mudah tersulut terhadap isu yang berbau SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar golongan), khususnya isu yang mengatasnamakan agama. Diantaranya adalah konflik Syiah-Suni yang terjadi di Sampang-Madura, penyerangan yang dialami oleh jemaat gereja HKBP Philadelphia, kasus penutupan gereja dan kekerasan yang dialami oleh jemaat GKI Yasmin, juga kasus pendiskriminasian terhadap jemaat Ahmadiyah, aksi radikal oleh sekelompok ormas keagamaan dan masih banyak lagi.

Mengingat kerukunan umat beragama merupakan modal utama dalam menjaga integritas Negara Kesatuan Republik Indonesia. Diharapkan masyarakat bisa menerima segala bentuk perbedaan juga hidup berdampingan secara damai. Nilai-nilai kemanusiaan akan lebih diutamakan daripada mempertentangkan perbedaan ideologi atau perbedaan keyakinan. Toleransi antar sesama umat akan bernilai tinggi dan tidak akan mudah menghujat paham. Karena pada substansinya semua agama mengajarkan tentang kebaikan dan moral universal. Keanekaragaman merupakan suatu khazanah bangsa Indonesia yang merupakan anugerah dari Yang Maha Kuasa dan yang terpenting adalah keutuhan serta kesatuan bangsa yang harus senantiasa terjaga agar bisa memaknai falsafah luhur Pancasila.

Demikian di sampaikan ketua FKUB Kabupaten Wonogiri H. Soetopo Broto pada acara Silaturrohmi/anjangsana koordinasi dengan organisasi keagamaan Badan Kerjasama Gereja Wonogiri (BKGW) di Gereja GSPII Wuryorejo wonogiri, Selasa (10/3/2015) hadir dalam pertemuan tersebut Pengurus FKUB Kab. Wonogiri, Kepala Kantor Kesbangpolinmas, dari Kementerian Agama serta pendeta dan pemuka agama Kristen.

Menurut Soetopo FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama) adalah wadah yang dibentuk oleh masyarakat dan difasilitasi oleh Pemerintah Daerah Provinsi / Kabupaten / Kota bersama Kemenag. Pemerintah Daerah maupun Kemenag perlu meningkatkan kualitas kerukunan hidup umat beragama melalui pembinaan, monitoring dan evaluasi sehingga sejak dini dapat diprediksi adanya potensi konflik di masyarakat.

Sedangan Ka. Kankesbangpolinmas Kab. Wonogiri yang di wakili Kabid Ketahanan Ekonomi Drs. Tri Apri, MM menyampaikan bahwa untuk menjaga kerukunan antar umat beragama harus dilandaskan dengan budaya mau berubah melakukan hal yang benar, serta biasakan melakukan hal yang benar, bukan membenarkan kebiasaan yang salah, perbedaan adalah sunatulloh dan hal yang lumrah yang perlu di cari titik persamaanya.

Menurutnya para tokoh agama setidaknya mengetahui tugas dan perannya terutama peran yang sangat strategis dalam menyikapi perkembangan di era sekarang ini, yang antara lain peran strategis pemuka agama ; a. mampu meningkatkan kwalitas agama bagi pemeluknya, b. terus mendorong toleransi agama dengan ketentuan c. saling menerima keberadaan umat beragama lain, mengerti kebutuhan beragama lain, percaya dan tidak saling mencurigai antar sesama umat, saling menjaga untuk tumbuh dan berkembang, rela berkorban untuk kebaikan bersama, mengedepankan nilai-nilai Universal.

“Keberadaan FKUB sangat vital dan strategis yaitu sebagai penjaga aktif garis kerukunan antarumat beragama di Indonesia, bentengi anak muda dari paham yang salah dan radikal serta ciptakan iklim kondusif di kota gaplek” pungkasnya (Mursyid – Heri)