Guru Harus Disiplin dan Profesional dalam Mengajar

Purbalingga – Dalam rangka pencairan Tunjangan Profesi Guru (TPG) Triwulan III tahun 2017, sebanyak 1.543 orang guru profesi dari RA/BA-MI dan MTs Negeri dan Swasta di lingkungan  Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga mengikuti kegiatan Pembinaan dan Pemberkasan TPG. Peserta verifikasi terdiri dari 649 guru PNS, 542 guru Non-PNS inpassing dan 352 guru Non-PNS Non-Inpassing. Kegiatan yang berlangsung sejak 12 Oktober hingga 18 Oktober 2017 ini dilaksanakan di 9 lokasi. Proses verifikasi dilakukan oleh 2 Tim dari Seksi Pendidikan Madrasah yang beranggotakan masing-masing 4 orang.

Kasi Pendidikan Madrasah Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Ratmono dalam salah satu pembinaannya di Madrasah Ibtidaiyah Karangtalun menyampaikan agar para peserta pemberkasan selalu bertindak sebagai guru profesional, antara lain dengan menerapkan sikap disiplin dan malu jika datang terlambat termasuk bersikap profesional dalam mengajar.

“Tiga hal penting yang harus diterapkan guru yaitu disiplin waktu, disiplin administrasi dan profesional dalam proses kegiatan belajar mengajar. Maka tidak dibenarkan guru datang terlambat dengan alasan-alasan yang klise, termasuk tidak dibenarkan seorang guru profesional mengajar sambil membawa anaknya yang masih kecil, “ ungkap Ratmono.

Terkait dengan Penilaian Kinerja Berkelanjutan (PKB), Ratmono menambahkan bahwa PKB adalah program yang sifatnya rutin dan menjadi salah satu syarat pencairan tunjangan profesi dengan  catatan nilai akhir pada lembar penilaian minimal “Baik”.

Maka seluruh guru PNS dan Non-PNS harus mempersiapkan diri dan melengkapi administrasi yang menjadi bagian tugasnya. Guru juga agar tidak mudah menyalahkan atau memvonis siswa, karena guru seharusnya bisa mengubah siswa dari tidak bisa menjadi bisa. Pada era sekarang madrasah juga harus siap menjadi pilihan pertama dalam dunia pendidikan seiring dengan kebangkrutan moral yang terjadi dimana-mana.

Finger print, kurikulum dan medsos

Sedangkan materi kejujuran dan keberanian mengambil sikap lebih ditekankan dalam pembinaan yang disampaikan oleh Ketua Tim 2, Syamsul Bahri. Dalam materi pembinaannya, Syamsul  mengingatkan tentang nilai kejujuran kepada para operator finger print di madrasah. Sehingga ia berpesan agar kejujuran tetap dipegang teguh oleh para operator.

Syamsul juga menekankan agar para guru memahami perubahan kurikulum  yang terjadi belakangan ini, termasuk tuntutan sesuai dengan kurikulum yang baru agar guru kreatif. Sehingga dalam penyusunan soal-soal, guru tidak hanya asal mengambil dari situs di internet. Karena bisa jadi para siswa dengan fasilitas yang dimilikinya sudah membuka dan menguasainya terlebih dahulu.

“Terkait dengan penggunaan internet, guru sebagian besar menggunakannya sebagai media sosial. Belum banyak guru yang browsing materi-materi penting tentang pendidikan. Padahal di sana terdapat banyak sekali sumber-sumber belajar yang dibutuhkan.  Maka saya berpesan manfaatkan media on-line yang ada bukan hanya sebagai medsos , tetapi juga sebagai sarana untuk mengembangkan pengetahuan dan meningkatkan kemampuan sebagai guru yang profesional,” jelas Syamsul.

Melalui kegiatan pembinaan ini diharapkan para guru akan semakin sadar dengan eksistensi profesinya yang harus dihargai dan bisa menjadi pelayan pendidikan yang dihormati dan dicintai  masyarakat.  (sar/gt)