Guru harus hindari penyakit TBC (tidak bisa computer) Gaptek (gagap teknologi)

Wonogiri – Kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi (Iptek) saat ini sudah tidak terbantahkan lagi dimana kita mau tidak mau harus memahami serta mengikuti perkembangan akan kemajuan Iptek tersebut, apalagi semua data di RA dan Madrasah semua berbasis IT yaitu EMIS dan pengurusan NUPTK saat ini online dan berbasis internet.

Era Keterbukaan Informasi saat ini, kita memang dituntut untuk memperluas wawasan kita, pengetahuan kita, keterampilan kita utamanya bagi seorang guru, sehingga kita semua siap untuk bersaing dalam persaingan yang cukup ketat, salah satu apek yang harus kita kuasi adalah perkembangan teknologi dan informasi.

Demikian di sampaikan Kasi Pendidikan Madrasah Kankemenag Wonogiri Drs. H. Ahmad Farid, M.S.I dalam acara Pelatihan Operator NUPTK pada RA di Aula Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wonogiri, Senin 16/01/2014 yang di ikuti Guru RA se Kabupaten.

Tidak di pungkiri di kalangan pendidik atau guru juga sering di hinggapi berbagai penyakit antara lain Kudis (kurang disiplin) Salesma (sangat lemah sekali membaca) Asam urat (asal mengajar, kurang akurat) Kusta (kurang strategi) Kurap (kurang persiapan) Stroke (suka terlambat, rupanya kebiasaan) Kram (kurang terampil) Mual (mutu amat lemah) TBC (tidak bisa computer) Gaptek (gagap teknologi) semua harus di kikis dan di hilangkan dari guru RA dan harus di mulai dari diri sendiri.

“Kemajuan Iptek terus menerus mengalami perkembangan sangat cepat saat ini, bagi guru harus melek terhadap perkembangan itu tak terkecuali guru RA, gunakan media yang ada di internet dengan mematangkan sistem IT di Kemenag baik itu EMIS atau NUPTK demi memajukan dunia pendidikan kita” tambahnya

Ahmad Farid mengingatkan bahwa “RA mempunyai kelebihan sebab, sekarang RA bukan alternatif sekolah TK. Tapi RA adalah pilihan masyarakat, dimana mereka memasukkan anak untuk bekal dan mengenalkan agama Islam sejak dini. RA adalah TK plus,”

Karena RA punya kurikulum sama dengan TK tapi plusnya pendidikan agama yg komprehensif bagi anak didik. Untuk itu RA kedepan harus terus berkembang lebih baik, tidak hanya sebagai lembaga pendidikan dini, tapi juga sebagai embrio mendidik moral generasi muda dan pengenalan agama yangg baik. (Mursyid & Heri)