Guru Katolik Semangat Melayani

Sebagai seorang pendidik tentunya kita tidak boleh setengah- setengah dalam membimbing dan mendidik anak didik meskipun banyak hambatan dan rintangan disana- sini. Seperti banyak dijumpai dibeberapa sekolah negeri khususnya, terkadang ketika UAS atau Ujian yang lain anak- anak kita ( Katolik ) dalam mengerjakan soal UAS karna ketidaktahuan guru tidak sedikit yang diminta mengerjakan soal milik Kristen, padahal dalam soal yang disajikan banyak perbedaan. Untuk itu guru yang Bergama katolik ataupun guru agama katolik harus pro aktif agar tidak terjadi kasalahan yang justru nantinya akan merugikan siswa sendiri, karna apa yang telah dipelajari berbeda dengan soal yang dikerjakan. Terkait dengan itu juga dalam menghadapi USBN, sebagai guru harus pro aktif karena banyak pengalaman untuk soal yang disediakan oleh Dinas tidak mencukupi jadi sebelum ujian dimulai harus diteliti terlebih dahulu supaya soal yang dibutuhkan mencukupi bagi siswa.

Selain terkait distribusi dan kaitannya dengan ujian, Penyelenggara Katolik Kab. Wonosobo YB. Budi Utomo, SH. MH juga menyampaikan banyak terima kasih kepada para Guru Agama Tidak Tetap ( GATT ) yang telah berkontribusi bagi perkembangan iman anak didik meskipun sebenarnya di lingkungan sekolah itu bukanlah tugas utama mereka. Dalam wawancara tersendiri kepada kami 14/7/2017 di ruang kerja Gara Katolik, Yan Budi menjelaskan bahwa “Tidak dipungkiri memang ketersedian Guru Pendidikan Agama Katolik di Kab. Wonosobo sangat kurang/ kekurangan guru sehingga banyak guru mapel atau guru kelas yang kebetulan beragama Katolik merangkap menjadi guru agama katolik. Berlatar belakang itu semua kita pasti ingat salah satu janji kita saat di baptis “ baptislah mereka …..dan ajarlah mereka menurut apa yang telah Kuperintahkan kepada kamu “, artinya sebenarnya setiap orang Katolik yang sudah dibaptis berkewajiban mengajar dan membagikan “Kabar Gembira“ yang telah diterima kepada orang lain, dalam hal ini secara khusus anak didik”.

Kritik yang sering muncul, guru agama dalam membelajarkan pendidikan agama di sekolah dianggap belum berjalan sebagaimana yang diharapkan. Guru agama belum mampu membentuk kepribadian siswa secara utuh. Hal ini terbukti dengan masih banyaknya kasus kenakalan siswa dalam berbagai bentuknya, baik di sekolah maupun luar sekolah. Meskipun kenakalan remaja tidak semata-mata disebabkan oleh pendidikan agama yang gagal, tetapi sering kali guru agama menjadi “tumpuan harapan” terbentuknya akhlak yang baik, sehingga apabila terjadi kenakalan siswa, guru agama sering menjadi sasaran. Persepsi ini tidak selamanya benar, dan juga tidak semuanya salah.

Karena guru agama dianggap sebagai “penjaga moral” di lingkungan sekolah, sehingga baik buruknya akhlak siswa sering dialamatkan kepada guru agama. Dengan persepsi tersebut guru agama dituntut mampu mengembangkan cara dan metode belajar agar selaras dengan perkembangan siswa di era seperti ini, agar mampu memantau dan mengontrol perkembangan anak didiknya. Sebagai penutup Yan Budi memberikan peneguhan  “ketauilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman “Mat. 28:20 . Berkah Dalem, Gusti Mberkahi”.