Guru Madrasah Harus Menjadi Teladan Ajaran Agama Yang Baik

Karanganyar – Watak dasar madrasah adalah keilmuan dan keislaman, oleh karenanya Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Karanganyar, H. Musta’in Ahmad menghimbau pada guru madrasah untuk menjadi teladan ajaran agama yang baik. Hal tersebut disampaikannya saat memberikan sambutan dalam kegiatan Lepas Sambut Kepala MTsN 2 Karanganyar, Selasa (16/01).

“Apa yang ada di Madrasah harus terus kita jaga, dan penting untuk diperhatikan bahwa watak dasar kita adalah keilmuan dan keislaman. Saya berharap guru madrasah dapat menjadi teladan ajaran agama yang baik di tengah masyarakat,” ujar Musta’in.

Lebih lanjut Kepala Kemenag mengatakan agar guru madrasah tidak kehilangan marwahnya sebagai seorang pendidik, cara yang harus terus diupayakan adalah dengan meningkatkan keilmuan dan menemukan cara-cara baru dalam proses pembelajaran.

“Tingkatkan keilmuan, dan jadilah guru yang dirindukan. Saat ini para guru tidak bisa mengajar dengan cara-cara lama yang dulu pernah didapatkan saat mengenyam pendidikan di madrasah. Temukan cara kreatif, sehingga ilmu yang dibagikan dapat berkembang dan diterima dengan baik”, tandasnya.

Lepas sambut Kepala MTsN 2 Karanganyar dari H. Sukidi digantikan Hj. Supriyani ini dihadiri oleh Kasi Penma Hj. Siti Muzayanah, Pengawas MTs Mulyono, Kepala Madrasah se Kabupaten Karanganyar, Dinas Pendidikan, serta guru di lingkungan MTsN 2 Karanganyar.

Kepada H. Sukidi yang ditugaskan pada MTsN 3 Boyolali, Kepala Kemenag mengucapkan terimakasih dan apresiasinya yang telah menjabat selama 9 tahun. Menurutnya, kebaikan yang sudah ditanamkan oleh Kepala MTsN lama harus diteruskan oleh penggantinya, Hj. Supriyani sehingga perkembangan madrasah semakin maju.

Di akhir sambutannya Kepala Kemenag mengingatkan seluruh hadirin untuk mengindahkan nilai-nilai jawa tentang kebersamaan/ kegotongroyongan yang sudah dimiliki bangsa Indonesia sejak lama. Madsinamadan, Doyo Dinoyo, Apura ing Ngapura, Donga Dinonga, Prasangka Baik.

“Madsinamadan saling menenggang, menghargai, memudahkan. Doyo Dinoyo harus memberdayakan untuk kesuksesan orang lain, Apura ing Ngapura jangan memendam dendam, optimis lihat ke depan. Donga Dinonga, saling mendoakan, ada kesetiakawanan, dan terakhir berprasangka baik kepada sesama. Itu nilai-nilai komunitas jawa dan masih relevan untuk membangun kerjasama dan konsolidasi kita sekarang ini,” jelas Musta’in. (ida-hd/Wul)