Guru RA Sosok Pejuang Pendidikan Sejati

Semarang – Guru Raudhatul Athfal (RA) merupakan sosok pejuang sejati di bidang pendidikan. Jika pengelolaan lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) termasuk di dalamnya RA dan pelaksanaan pembelajarannya baik maka guru RA sudah menyiapkan dan membangun pondasi pendidikan dengan kokoh. Ibarat sebuah bangunan gedung, jika pondasinya kokoh maka bangunan di atasnya menjadi kokoh. Namun sebaliknya jika pondasi awalnya rapuh, maka bangunan di atasnya menjadi mudah roboh.

Demikian dikatakan Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Semarang Muh Habib pada acara Halal bi Halal yang diselenggarakan oleh Ikatan Guru Raudhatul Athfal (IGRA) Kota Semarang. Kegiatan berlangsung di GOR Manunggal Jati Pedurungan Kota Semarang, Rabu (19/07).

Kakankemenag mengapresiasi semangat juang guru RA, kendati dengan gaji tidak terlalu banyak tetapi tetap bersemangat dan bersungguh-sungguh dalam melaksanakan tugasnya. Terlebih mendidik dan mengajar anak usia dini diperlukan kesabaran ekstra dan perhatian khusus. Tidak berlebihan kiranya jika dikatakan guru RA sangat berperan dalam membentuk kepribadian anak didik sesuai dengan tuntunan agama dan tujuan pendidikan nasional.

Ditambahkan Habib, setelah sebulan penuh berpuasa di bulan Ramadhan diharapkan masih ada hikmah Ramadhan dan Idul Fitri di hati kita, sehingga perjalanan hidup selanjutnya tetap di jalan yang lurus.

“Dengan saling memaafkan, kita seperti kertas tabula rasa yang putih bersih tiada noda. Secara dinas, saya mewakili teman-teman Kementerian Agama Kota Semarang minta maaf jika dalam memberikan pelayanan mungkin dirasa belum maksimal,” katanya.

Halal bi Halal dikuti oleh 650 guru RA se-Kota Semarang yang semuanya mengenakan seragam IGRA. Hadir pula Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Azhar Wibowo dan semua pengawas RA Kemenag Kota Semarang.

Taushiyah disampaikan oleh KH Adib Zamroni dari Kecamatan Guntur Kabupaten Demak. Turut memeriahkan acara, grup rebana Khoirun Nisa dari Kecamatan Genuk Kota Semarang di bawah asuhan Ahmad Bisyri. Acara diakhiri dengan bermusyafahah, saling berjabat tangan sebagai tanda saling memaafkan.(amhl-ch/gt)