Habib Lutfi: Bila Pemerintah, Ulama, TNI, Polri, dan Rakyat Bersatu

Pekalongan – Meningkatnya suhu politik mendekati Pilkada 2017 akhir-akhir ini terjadi di berbagai daerah khususnya di ibukota sudah merambah ke level nasional. Bergulirnya isu penistaan agama oleh Ahok ditanggapi dengan aksi bela Islam pada tanggal 14 Oktober 2016, 4 November 2016 dan menurut informasi akan berlanjut pada Aksi Bela Islam ke-3 pada 2 Desember yang akan datang. Aksi-aksi tersebut dikhawatirkan ditunggangi oleh kelompok radikal dan aktor politik kelas nasional demi meraih tujuan mereka yang cenderung mengarah pada perbuatan makar serta memecah belah persatuan dan kesatuan nasional serta mengabadikan kepentingan bangsa dan negara.

Gerakan serta provokasi untuk menurunkan umat islam pada aksi-aksi tesebut tentunya menimbulkan kekhawatiran para pemangku pemerintah dan para tokoh nasional. Tindakan preventif melalui pendekatan kepada masyarakat, ulama, tokoh nasional dan daerah, ormas dan senja pijak diharapkan mampu untuk mencegah terjadinya upaya pemecah belah persatuan.

Demikian pula dengan masyarakat Pekalongan, Pemalang, dan Batang yang dipandegani oleh Pondok Pesantren Al Khoirot Pekalongan sore ini (27/11) menggelar Khataman Alquran & Istighosah Kubro Untuk Damai Indonesiaku yang dipelopori oleh Ponpes Darul Hufadz Al Khoirot Kertoharjo Kota Pekalongan yang dihadiri oleh Habib Lutfi bin Ali bin Yahya, Wakapolda Jateng, Kodam IV Diponegoro, Gubernur Jawa Tengah (Diwakili Karo Bintal), Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah, dan Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Pekalongan.

Kegiatan istighosah kubro diikuti sekitar 1.200 orang, sebagaimana dilaporkan oleh Ketua Panitia, M. Ilyas Yusuf,  terdiri atas: ulama thariqah se Jawa Tengah, Muspida (Kab/Kota Pekalongan, Batang, Pemalang), Jamaah Ahlit Thariqah Mu’tabarah an Nahdliyyah  Muslimat NU, dan masyarakat umum. Tujuan istighosah antara lain mempererat ukhuwah Islamiyah, memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa, mendoakan bangsa dan negara agar terhindar dari perpecahan dan tetap diberikan kedamaian oleh Allah SWT. serta membangun semangat menjaga nilai ahlussunnah wal jamaah ditengah maraknya gerakan radikalisme.

Gubernur Jawa Tengah, dalam sambutan tertulis yang dibacakan oleh Raharjanto Pujiantoro, menyampaikan apresiasi yang tinggi atas terselenggaranya kegiatan istighosah kubro untuk Damai Indonesiaku ini. Gubernur berharap agar masyarakat bisa menanggapi secara bijak atas segala gerakan yang mengarah pada radikalisme. “Jangan mudah terhasut oleh provokator yang akan menjadikan bangsa ini terpecah belah,” kata Raharjanto membacakan sambutan Gubernur.

Mauidhah Hasanah disampaikan oleh KH. Habib Lutfi bin Ali bin Yahya. Disampaikan Habib Lutfi bahwa apabila Ulama, Pemerintah dan TNI-Polri bersatu, Indonesia akan menjadi negara yang kuat. “Apabila Ulama, Pemerintah, TNI dan Polri bersatu, rakyat sulit untuk dipecah belah. Persatuan kita sangat penting, untuk mengisi kemerdekaan dan membangun negara tercinta ini,” terang Habib.

Habib melihat, membangun Bangsa Indonesia, tidaklah mudah. “Membangun negeri ini tidak semudah membalik telapak tangan. Perlu waktu, perlu kesabaran dan keuletan. Saat Nabiyullah Muhammad SAW diangkat menjadi rasul, perintah mendirikan shalat ada setelah 10 tahun. Artinya semua hal membutuhkan proses,” imbuhnya.

Di  era global ini, silaturahim antar anak bangsa sangat dianjurkan, karena mampu lebih mengakrabkan dan mempersatukan. “Ulama, Pemerintah, TNI dan Polri adalah orang tua kita. Dan sebagai orang tua, harus memberi suri tauladan, jika tidak, maka akan mengurangi kewibawaan  sendiri,” pungkasnya. (fat/gt)