Habib Tekankan Pentingnya Character Building

Semarang – Membangun karakter (character building) melalui budaya sekolah/madrasah sangat penting. Hal tersebut disampaikan Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Semarang Muh Habib di hadapan peserta Seminar Sekolah Sebagai Tempat Pembentukan Karakter Anak Usia Dini di Gedung Diponegoro Jl. Puspowarno Semarang, Kamis (23/03).

Kepala Kantor Kementerian Agama menyambut baik dan mengapresiasi kegiatan yang diselenggarakan kerja sama antara Kemenag Kota Semarang dengan PT. Penerbit Erlangga Cabang Semarang. Menurutnya seminar ini sebagai upaya memajukan mutu pendidikan usia dini bagi PAUD, RA/TK dan MI/SD serta lembaga sejenis yang menangani anak usia dini atau perorangan yang intens terhadap masalah pendidikan usia dini.

Di hadapan lebih dari 200 peserta, yang mayoritas terdiri dari Guru PAUD, RA/TK dan MI/SD, Habib memaparkan tugas dan fungsi seorang guru. “The teacher is agent of change, Guru adalah agen perubahan, yang tidak hanya sekedar mencerdaskan anak didik tetapi diharapkan mampu mengembangkan kepribadian yang utuh, berakhlak dan berkarakter,” terang Habib.

Ditambahkan, saat ini sering terlihat sikap anak usia dini yang bisa membuat miris, misalnya anak suka bicara kotor, suka marah, suka memukul dan melawan orang tua, tidak punya sopan santun, bahkan ada anak yang kadang perilakunya tidak senonoh/banyak meniru tingkah orang dewasa. Pergeseran nilai etika ini, menurut Habib akibat dari pengaruh lingkungan  rumah atau masyarakat sekitar dan media. “Bisa dari melihat  langsung adegan yang ditampilkan orang dewasa di rumahnya/di lingkungan masyarakat, atau juga karena pengaruh tontonan yang dilihat di TV atau mungkin  kecanggihan tehknologi baik internet dan media lain,” jelasnya.

Selanjutnya ditekankan pentingnya pengenalan ajaran agama berupa etika/akhlak, ibadah dan muamalah sedini mungkin melalui praktek sehari-hari baik di sekolah/madrasah maupun di rumah. “Sekolah/madrasah juga harus memberikan rasa aman dan nyaman bagi anak didik sehingga orang tua merasa tenang menitipkan anaknya,” pintanya.

Habib berharap, setelah mengikuti seminar ini peserta dapat mengetahui berbagai hal, menambah wawasan terkait pembentukan karakter anak usia dini di sekolah/madrasah sehingga nantinya dapat diterapkan dan dikembangkan di lembaga masing–masing atau di keluarga dan masyarakat.

“Jika saat ini semua elemen bangsa bisa menyingsingkan lengan baju  bersama dan semuanya dengan serius berpartisipasi dalam pembentukan karakter semua anak Indonesia yang berada dalam rentang usia dini maka pada seratus tahun Indonesia merdeka tahun 2045 akan memasuki usia emas. Kita akan memiliki generasi emas yang cerdas, tangguh dan berkarakter serta berakhlak mulia,” pungkasnya.

Sementara itu Asisten Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Luthfi Humaidi membahas tentang pendidikan anak usia dini  harus mampu mengembangkan seluruh dimensi dan potensi serta aspek-aspek peserta didik secara utuh dan menyeluruh (holistik). Akibat dari kekurangpahaman ini  banyak praktek pembelajaran di PAUD/TK/RA/MI/SD yang cenderung lebih mementingkan kemampuan akademik (calistung) daripada pengembangan aspek emosi dan sosial anak. “Dalam proses pembelajaran terlalu menitikberatkan pada aspek kognitif. Padahal amanat UU, tujuan pendidikan nasional adalah untuk membentuk (peserta didik) menjadi manusia holistik yang berkarakter. Sehingga hal ini akan menghambat proses pembentukan karakter anak,” ujar Luthfi.

Lebih lanjut disampaikan, pendidikan anak usia dini merupakan tanggung jawab bersama antara berbagai elemen, pemerintah, sekolah/madrasah, keluarga dan masyarakat. “Semua unsur tersebut harus saling mendukung. Kurang sinerginya antara sekolah, keluarga dan masyarakat akan berakibat pembentukan karakter peserta didik menjadi parsial, dan tidak holistik,” tegasnya. (ch/gt)