Hindarkan Diri Dari Penyakit Hati

Pati – Pembinaan Aparatur Sipil Negara (ASN) oleh Kepala Kantor Kementerian Agama kabupaten Pati diadakan di aula setempat, (6/3). Pembinaan mental Agama ASN di lingkungan Kankemenag Kab. Pati ini bertujuan untuk meningkatkan sumber daya manusia melalui bimbingan atau pembinaan mental agama khususnya bagi pegawai muslim di lingkungan Kankemenag Kab. Pati. Nara sumber pengajian pada pagi hari ini adalah Kepala Kankemenag Kab. Pati, Akhmad Mundakir.

Dalam uraiannya Mundakir mengatakan Banyak dari kita yang tidak mengerti seberapa besar kekuatan Al Qur’an yang Allah turunkan kepada umat muslim yang ada di muka bumi ini. Bahkan nama Al Qur’an yang kita kenal sebagai Asy Syifa (penyembuh) seringkali belum kita percaya akan kemujarabannya. Sudah kuatkah kita dalam mengimani Al Qur’an, sehingga mampu menjadikannya sebagai obat paling ampuh dalam menyembuhkan penyakit-penyakit yang ada,”

Mundakir menambahkan “Tidak dapat dipungkiri bahwa kehidupan yang dilalui oleh setiap orang pasti memiliki saat ia bersemangat dalam memenuhi kewajiban atas keimanan yang diikrarkannya, namun ada pula saat di mana ia akan menemui penyakit hati yang menggerogoti keimanannya sebagai seorang muslim. Karena memang sudah tabi’at keimanan menemui masa ketangguhan saat ia sedang menguat, namun tak jarang pula mengalami penurunan manakala ia melemah karena maksiat yang dilakukan baik dengan sengaja maupun tidak. Mungkin kita pun menyadari bahwa banyak sekali potensi penyakit yang akan dialami manusia, yang barangkali tak terdiagnosis bahkan oleh pengetahuan medis sekali pun,” jelasnya.

Lebih lanjut Mundakir Menjelaskan, Sedikitnya ada 8 potensi penyakit yang seringkali diidap oleh manusia, barangkali juga termasuk kita. Yang pertama dan kedua adalah penyakit lemah semangat dan malas. Yang selama ini menjangkiti kita, bahkan untuk sekedar mengawali rutinitas keseharian termasuk juga mungkin ketika kita diminta untuk datang ke pengajian. Yang berikutnya adalah keresahan hati serta rasa gelisah yang memunculkan ketergesa-gesaan. Bisa jadi ini diakibatkan oleh banyak hal, salah satunya ketidaksiapan kita saat menghadapi masalah yang ada. Dada ini sesak dengan ketakutan dan ketidak-tenangan karena tidak mampu menyerahkan semuanya dalam ketawakkalan kepada Allah.

Untuk menjaga kita dari serangan penyakit-penyakit di atas, Mundakir menuturkan ada tiga benteng yang dapat digunakan oleh setiap muslim. “Pertama, yaitu dengan merutinkan qiro’atul qur’an (membaca Al Qur’an). Kedua, memperbanyak dzikrullah (mengingat Allah). Ketiga, senantiasa menumbuhkan kecintaan akan masjid sehingga kita dapat benar-benar menemukan ketenangan saat berada di dalamnya. Lagi-lagi itu hanya bisa bermanfaat jika dibungkus keimanan dan kebersihan hati dalam diri seorang muslim.” Jelasnya.

Sifat ketiga adalah asimilasi. Hampir mirip dengan poin sebelumnya, sifat ini juga mempersilakan kita untuk mempraktekkan kebiasaan-kebiasaan yang dianggap lumrah, selama hal tersebut tidak melanggar syariat yang telah ditetapkan. Dan sifat yang terakhir adalah toleransi, yang artinya tetap harus dijaga rasa saling pengertian terhadap pilihan sikap yang diambil masing-masing individu selama memang itu masih memiliki hujjah yang jelas dan tidak keluar dari kaidah-kaidah yang diajarkan Rasulullah Muhammad saw. Wallahu a’lam bish shawaab, “terang Mundakir mengakhiri ceramahnya. (Athi’/bd)