IAIN Salatiga gelar Seminar Internasional

Salatiga – Seminar Internasional “ASEAN Economic Community 2015; Prospects and Challenger for Islamic Higher Education” menampilkan Prof. Zulkiple Abdul Ghani (Timbangan Naib Conselor, Academic dan Antara Bangsa Islamic Science University of Malaysia), Prof. John Hope (Profesor dari Auckland, New Zealand), Dr.Misnen Ardiansyah, MSi (Wakil Dekan Fakultas Ekonomi & Bisnis Islam UIN Sunan Kalijaga). Menteri Ketenagakerjaan M. Hanif Dhakiri dan Sekjen Kementerian Agama, Nur Syam hadir sebagai keynote speaker. Hadir pula Walikota Salatiga, Yulianto, beserta Forkompimda Salatiga. Seminar yang diikuti oleh para pimpinan perguruan tinggi Islam di Jawa Tengah, Kepala Kankemenag sekitar Salatiga, serta para ulama di Salatiga diselenggarakan di Laras Asri Resort & Spa Salatiga.

Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh tiga hal, pertama kesyukuran perubahan status STAIN menjadi IAIN pada 19 Desember 2014 dilaunching Presiden. Kedua, kesyukuran berkat keluarga IAIN Salatiga yang mendapat amanah menjabat Menteri Kabinet Kerja. Ketiga, kesyukuran berkat dialokasikan anggaran untuk pembangunan kampus 3. Demikian disampaikan, Ahmad Haryadi, Rektor IAIN Salatiga dalam sambutannya.

Pada kesempatan tersebut, Hanif Dhakiri, menyampaikan bahwa saat ini Indonesia menghadapi tantangan yang cukup berat dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN pada 15 Desember 2015 yang akan datang. Dari segi industri dan tenaga kerja kita menempati posisi paling rendah dalam hal kesiapan menghadapi ekonomi ASEAN. Untuk itu diperlukan adanya percepatan kompetensi untuk menghadapi kompetisi tenaga kerja. “Saat ini para lulusan perguruan tinggi belum bisa langsung siap pakai. Harus ada kepastian kualitas bagi lulusannya sehingga kerja mereka lulus sudah siap pakai”, jelasnya.

Menurutnya, IAIN saat ini menjadi perguruan tinggi yang unggul dalam hal kompetensi dan karakter yang lebih optimal karena didasarkan pada pendekatan agama. Di sisi lain ruang pekerjaan yang tersedia bagi alumni IAIN saat ini semakin sempit. “Dulu ketika masuk pingin jadi guru, ee setelah lulus sudah tidak ada pembukaan pendaftaran guru. Sakitnya tuh di sini”, gurau Hanif.

Selain percepatan kompetensi juga diperlukan percepatan sertifikasi profesi. Saat ini hanya sektor pariwisata yang paling siap. Perhotelan dan seluruh pelayanan di dalamnya memberikan sumbangan yang besar pada kesiapan sektor pariwisata dalam pelayanan yang profesional. Meski demikian, sumber daya manusia yang handal harus selalu ditingkatkan agar bisa berkompetisi di dunia kerja khususnya di dunia Internasional.

Percepatan selanjutnya adalah percepatan pengendalian tenaga kerja asing di Indonesia. Diharapkan seluruh tenaga kerja asing di Indonesia bisa dikendalikan karena tidak menutup kemungkinan adanya tenaga kerja asing ilegal. “Saat ini kita masih dalam proses pendataan. Ada sekitar 72 ribu tenaga kerja yang terdaftar. Tunggu saja”, katanya membenarkan adanya tenaga kerja asing ilegal. (fat)