Ilmu Agama benteng hadapi globalisasi

Rembang — Ujian Nasional yang tak lagi dijadikan satu-satunya penentuan kelulusan siswa tentunya menggembirakan segenap siswa, utamanya bagi siswa madrasah. Hal ini menepis pandangan masyarakat pada tahun-tahun sebelumnya, bahwa ujian nasional merupakan sebuah ‘momok’, yang membawa tekanan psikis bagi sebagian siswa.

Kegembiraan tersebut sebagaimana yang diperlihatkan oleh segenap siswa Madrasah Aliyah di Rembang. Hal ini tak lain karena tingkat kelulusan mereka mencapai 100 persen. Sontak mereka menyambutnya dengan berbagai ekspresi.

Salah satunya adalah yang dilakukan oleh para siswa MAN Rembang. Jumat sore lalu (15/5) sekitar pukul 15.00 WIB, para siswa sekolah menengah atas atau sederajat sangatlah bersuka cita, karena pengumuman kelulusan yang telah dinanti-nantikan sudah terbit.

Sebagai ungkapan rasa syukur, seluruh siswa kelas XII MAN Rembang mengadakan long march sepanjang jalan HOS Cokroaminoto menuju Jalan Dr Wahidin. Aksi mereka bukanlah konvoi mengendarai motor kebut-kebutan dan mencorat-coret seragam sekolah seperti yang sering kita lihat di beberapa titik jalan raya. Sebaliknya, yang mereka lakukan adalah membagi-bagikan makanan ringan kepada segenap pengguna jalan yang mereka lalui.

Hal tersebut ditanggapi positif oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Rembang, Atho’illah. Menurutnya, sikap demikian perlu ditiru oleh siswa lain. Beliau menyampaikan apresiasi atas inisiatif MAN Rembang dalam menyikapi kelulusan tahun ini. “Kebetulan saat itu saya melintasi jalan di mana kalian semua melakukan long march dan membagi-bagikan snack, termasuk kepada saya”, akunya di hadapan para calon alumni MAN Rembang ketika memberikan sambutan pada acara Pelepasan dan Perpisahan Siswa kelas XII MAN Rembang, di aula MAN Rembang, pagi tadi.

Beliau berpesan kepada siswa kelas XII agar menjadi generasi yang tangguh dalam menghadapi era globalisasi yang kian penuh dengan tantangan. Menurut beliau, kondisi sosial saat ini sangatlah berkembang pesat dari beberapa tahun terakhir. Perkembangan tersebut tak hanya di bidang teknologi informasi saja, melainkan hal-hal lain yang salah satunya disebabkan oleh perkembangan IT tersebut. “Contohnya saja narkoba, pergaulan bebas, minuman keras, dan kejahatan lainnya yang sangat rentan menimpa para remaja kita,” sambungnya.

Oleh karena itu, Atho’illah meminta kepada wisudawan-wisudawati untuk berpegang teguh pada ajaran Islam, sebagaimana yang telah mereka peroleh selama tiga tahun di madrasah. Dikemukakannya, para wisudawan-wisudawati patut bersyukur bersekolah di madrasah. Di lembaga pendidikan formal yang bernaung di bawah Kementerian Agama ini, para siswa mendapatkan ilmu agama Islam jauh lebih banyak dibandingkan dengan sekolah umum. “Oleh karenanya, kalian harus mampu menjadi generasi yang lebih unggul dari lulusan sekolah umum. Sebab ilmu agama lah yang membawa keselamatan bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara”, pungkasnya.—Shofatus Shodiqoh.