Indonesia Bukan Negara Agama Tapi Melindungi Umat Beragama

Pemalang – Safari sholat Jumat yang menjadi agenda rutin jajaran Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pemalang sudah berjalan lebih dari dua tahun. Dan kegiatan safari sholat Jumat kali ini dihelat di Masjid Al-Fatah Desa Gombong Kecamatan Belik (16/6). Presiden RI dalam keputusannya nomor 18 tahun 2017 menetapkan tanggal 23 Juni 2017 sebagai hari cuti bersama hari raya Idul Fitri, sehingga sholat Jumat kali ini adalah yang terakhir di bulan Ramadhan tahun 1438 Hijriyah.

Kepala Kankemenag hadir bersama Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam dan jajarannya. Kepala KUA, Sekretaris Camat, Pengawas Madrasah dan PAI, dan Penyuluh Agama Islam Kecamatan Belik turut mengikuti kegiatan.

Seusai melaksanakan sholat Jumat, Kepala Kankemenag Taufik Rahman berikan pembinaan kepada jamaah sholat dan tamu undangan. Dia mengajak umat Islam untuk menjadi usawatun hasanah, panutan di segala bidang bagi yang lainnya.

Terutama dalam hal menjaga kerukunan umat beragama, sebagai pemeluk agama terbesar di Indonesia, umat Islam harus mampu menjadi pelopor dalam toleransi intern umat, antar umat, maupun antara umat beragama dengan Pemerintah. Untuk mewujudkannya, dia menghimbau kepada pemuka agama Islam untuk memberikan materi ceramah yang menyejukkan.

“Para kyai, dai, dan penyuluh agama Islam berikan pencerahan melalui ceramah kepada masyarakat. Berikan masyarakat ceramah yang menyejukkan, konstruktif agar masyarakat bersatu padu, rukun, dan damai. Ceramah tanpa mengandung muatan yang destruktif, mengadu domba,” serunya.

“Indonesia memang diciptakan bukan negara agama, tapi melindungi umat beragama. Negara Indonesia berdasarkan Pancasila. Ada enam agama di Indonesia yang hidup berdampingan, mari kita jaga kerukunan agar pembangunan bisa berjalan dengan lancar,” imbuhnya.

Taufik mengajak umat Islam di Indonesia untuk bangga dengan budaya Indonesia. Agama Islam lahir di tanah Arab, namun yang diambil adalah ajaran agamanya, bukan budayanya. Bangsa Indonesia mempunyai budaya sendiri. Begitu pula umat Islam di Indonesia mempunyai ciri khasnya tersendiri.

Sebelum menutup pembinaannya, ia meminta para orang tua untuk membentengi anak cucu dari pengaruh buruk. Pergaulan remaja saat ini sudah menuju kebebasan. Semakin maraknya anak kecil yang mempunyai telepon pintar juga bisa membawa dampak buruk jika tidak ada kontrol dari orang tua. Sebagai langkah awal sebaiknya anak diberikan bekal ilmu agama, disekolahkan di madrasah, diniyah, maupun TPQ. (fi/rf)