Indonesia Raya Menggema di MAJT

Semarang – Puluhan ribu umat Islam memadati Plaza Masjid Agung Jawa Tengah untuk mengikuti Shalat Gerhana Matahari, Rabu (09/03). Jamaah berasal dari seluruh penjuru Jawa Tengah mulai memasuki Plaza sejak shubuh, bahkan ada yang sampai menginap. Shalat Kusufus Syams ini terselenggara atas kerjasama Masjid Agung Jawa Tengah, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, UIN Walisongo, dan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah, acara dihadiri oleh Wakil Gubernur Jawa Tengah – Heru Sujatmoko, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah – Ahmadi, Rektor UIN Walisongo – Muhibbin Noor, Ketua MUI Jawa Tengah – Ahmad Daroji.

Ahmadi, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah mengatakan, sebagaimana diketahui bahwa gerhana matahari yang terjadi di Jawa Tengah merupakan gerhana parsial, bukan gerhana matahari total. Meski demikian, sebagai umat muslim seyogyanya melaksanakan anjuran Nabi Muhammad saw untuk menyelenggarakan shalat kusuf. Beliau menegaskan bahwa gerhana matahari merupakan peristiwa alam biasa, tidak ada sangkut pautnya dengan kelahiran tokoh besar ataupun kematian seseorang. Kejadian alam tersebut semata-mata menunjukkan kebesaran dan kuasa Allah SWT atas seluruh kejadian di alam semesta. “Saat ini pantas rasanya untuk kita jadikan sebagai wahana introspeksi diri terhadap apa yang telah kita perbuat untuk alam semesta,” kata Ahmadi.

Ahmadi berharap dengan diselenggarakannya shalat kusufus syams ini bisa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT sekaligus mensyukuri nikmat yang telah dilimpahkan Allah SWT kepada umat manusia beserta alam seisinya. Ahmadi juga menekankan bahwa, “Gerhana bukanlah tontonan, melainkan bukti kebesaran kuasa Allah SWT.”

Indonesia Raya Menggema

Barangkali ini hanya terjadi di Masjid Agung Jawa Tengah. Pasalnya sebelum dilaksanakan shalat kusufus syams, jamaah diminta berdiri untuk bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya. Salah satu jamaah yang enggan disebutkan namanya mengatakan kebanggaannya ketika menyanyikan lagu kebangsaan. “Inilah salah satu bentuk kegiatan keagamaan yang tidak meninggalkan patriotisme.” Jamaah lain menduga-duga bahwa dinyanyikannya lagu kebangsaan karena gerhana kali ini sebagian besar hanya bisa dilihat dari bumi nusantara tercinta. (fat/gt)