Intip Puisi Firza Azhar Dalam Antologi Puisi Brainstorming

Banjarnegara – “Brainstorming” adalah buku antologi puisi yang lahir  dari kelas menulis MTs Negeri 1 Banjarnegara di bawah asuhan Rizky Arbangi Nopi dan Sarno. Buku ini merupakan buku pertama yang berhasil diluncurkan sebelum kelas menulis ini genap berumur satu semeter. “Suatu kebanggaan jika anak yang rata-rata baru berusia 12-13 tahun, telah mampu melahirkan sebuah karya sastra puisi,” ungkap Arbangi.

Firza Azhar adalah satu dari 35 anak yang berkontribusi dalam “Brainstorming”. Dua belas puisinya ditulis apik dengan diksi yang mengagumkan yang tidak akan diduga bahwa rangkaian kata itu tercipta dari pikiran bocah belasan tahun.

Kedua belas puisi tersebut adalah Ayah, Aku 1, Laskar Pelangi, Kami Ingin Sekolah, Tuhanku, Maafkan Aku, Alam Semesta, Semesta, Indonesiaku, Jaya Indonesia, Malam yang Tak Terlupaka, dan Sepotong Lilin. 

Ada berbagai kisah yang melatarbelakangi penulisan puisi-puisi tersebut.  Aku 1 adalah puisi yang sangat menarik, bahasa khas puisi anak milenial, seperti yang diungkapkan Pensil Kajoe, seorang cerpenis dan kolumnis Majalah Djaka Lodang, Yogyakarta pada bagian blurbBrainstorming”.

Ketika ditemui di MTs Negeri 1 Banjarnegara (30/10), Firza Azhar menceritakan bahwa kemampuannya dalam mengolah kata dan menyusun rima tidak datang sendiri, ia belajar dari karya-karya puisi pujangga terkenal, ia juga mengambil referensi dari puisi-puisi di internet.

“Sebelumnya saya tidak suka dengan puisi, saya pun kesulitan mengikuti kelas menulis, bahkan saya sempat ingin keluar dari kelas menulis, tapi saya berpikir untuk mencoba dulu, siapa tahu saya bisa. Dan setelah saya ikuti pembelajaran di kelas menulis, saya jadi jatuh cinta dengan puisi,” papar penggemar Fiersa Besari ini.

Firza Azhar juga menambahkan bahwa tidaklah cukup hanya belajar dengan membaca puisi orang lain, untuk bisa membuat puisi, kita tidak boleh malas untuk selalu praktik membuat puisi.

Rizky Arbangi Nopi menuturkan bahwa Firza Azhar mempunyai bakat dalam menulis puisi. Di kelas menulis, dialah yang paling berani bertanya tentang dunia sastra. Firza juga dikenal berani mengolah rasa menjadi kata-kata yang indah.

“Kemampuan Firza cemerlang. Kecerdasannya tidak hanya dalam literasi, tapi juga di bidang olah raga dan juga akademik. Kegiatannya padat, tapi dia bisa mengatur waktu dengan baik,” ungkapnya.

Semangat membara untuk terus mengikuti kelas menulis Madtsansa sangat tampak di wajah Firza. Cowok ABG yang puisinya pernah terbit di koran BMR Fox Sulawesi Utara ini  dengan lantang menyatakan siap ketika ditantang menulis cerpen untuk buku antologi kedua. (nov/mnh/rf)