Istighosah Kebangsaan Kemenag Banjarnegara sebagai Refleksi Perjuangan Pahlawan

Banjarnegara – Sejarah kemerdekaan tidak lepas dari peran santri dan ulama. Para santri dan ulama merupakan tokoh yang berdiri di garis terdepan melawan penjajah pada masa sebelum kemerdekaan dideklarasikan. Hal ini disampaikan oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banjarnegara, Agus Suryo Suripto dalam acara Istoghosah Kebangsaan Hari Santri Nasional (HSN) 2021.

Acara Istoghosah Kebangsaan Hari Santri Nasional 2021 ini merupakan puncak dari rangkaian acara HSN Kementerian Agama Kabupaten Banjarnegara. Rangkaian acara ini diawali dengan berziarah ke makam para pahlawan, upacara HSN 2021, dan puncak acara Istoghosah Kebangsaan Hari Santri Nasional 2021. Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banjarnegara, Agus Suryo Suripto menjadikan momen istighosah ini untuk mengajak generasi muda tidak melupakan sejarah.

“Para santri dan ulama adalah pejuang. Mereka adalah pahlawan nasional yang berada di garda terdepan dalam melawan penjajah yang datang ke Indonesia, khususnya daerah Banjarnegara. Kemerdekaan kita ini tidak bisa digantikan dengan apapun, maka ini menjadi tanggung jawab kita bersama. Kita bersama-sama menggalakan moderasi beragama,” tegas Agus Suryo saat ditemui diruang kerjanya Kamis (4/11).

Mengingat zaman ini semakin miris melihat banyak generasi yang tidak mau menghargai sejarah. Seperti orang-orang yang tidak mau hormat bendera karena dianggap bid’ah, tidak mau menyanyikan lagu indonesia raya karena bidah, dan masih banyak lagi.

“Kita ini kan hanya penikmat kemerdekaan. Kita tidak ikut dalam memperjuangkan kemerdekaan pada masa penjajahan, kita bukan pejuang. Maka sepatutnya mari kita menghargai para pahlawan yang sudah rela menumpahkan darah mereka demi Indonesia yang merdeka. Hormat bendera kan mudah, menyanyikan lagu kebangsaaan Indonesia Raya juga mudah, yang sulit adalah perang melawan penjajah demi Kemerdekaan kita,” lanjut Agus Suryo.

Peringatan hari santri ini tidak lepas dari sejarah perjuangan santri dan ulama. Pada tanggal 22 Oktober 1945, para santri dan ulama melawan penjajah yang berakhir pada 10 November 1945 yang sampai saat ini diperingati sebagai Hari Pahlawan Nasional. Di Banjarnegara, dari ujung timur hingga ujung barat, dari ujung utara hingga ujung selatan, santri merupakan pejuang pertama yang menghadang penjajah dari berbagai penjuru.

Para pejuang di masa penjajahan berjuang dengan senjata bambu runcing dan kerikil yang sudah didoalak oleh para ulama. Hal itu merupakan tirakat yang dilakukan oleh para ulama untuk menghadapi penjajah.

“Sudah sepatutnya kita, para penikmat kemerdekaan menghargai dan meneruskan perjuangan para pahlawan. Jika dulu para pahlawan berjuang dengan mengangkat senjata, kita berjuang dengan menghargai dan menghormati  hasil jerih payah mereka. Jangan mudah mencela sesama, mari kita teladani para pahlawan kita sehingga wujud moderasi beragama akan terus bergema di Banjarnegara,” pungkas Agus Suryo (rin/ak/rf)