Jadi Madrasah Riset, MTsN 2 Wonosobo Gandeng Ilmuwan dan UNSIQ

Wonosobo – Ditunjuk oleh Kementerian Agama RI sebagai Madrasah Riset dan siap menjadi Madrasah Adiwiyata, MTsN 2 Wonosobo yang saat ini dipimpin oleh H. Yatiman, dengan jumlah peserta didik mencapai 834 siswa dan tenaga pendidik serta karyawan mencapai 62 orang, MTsN 2 Wonosobo bergerak lakukan beberapa langkah strategis untuk mewujudkan program yang tengah dicanangkan.
Salah satu gerakan strategis tersebut yakni peningkatan kapasitas guru dan peserta didik melalui riset dan penulisian karya ilmah. Hal tersebut diimplementasikan dengan menggandeng dua perguruan tinggi yakni UNSIQ Jawa Tengah di Wonosobo dan Politeknik Banjarnegara dibuktikan dengan Penandatanganan MOU kerjasama kedua belah pihak yang dilakukan pada hari Senin, (15/11) di RM Saritoya, yang sekaligus bertepatan dengan bimbingan teknis Peningkatan Kompetensi Guru Penyusunan Hasil Penelitian dan Pembimbingan KIR di Madrasah.
Hadir dalam kesempatan tersebut yakni Kakankemenag Kab. Wonosobo, Ahmad Farid, Rektor UNSIQ Zaenal Sukawi, dan Direktur Politeknik Banjarnegara, Tuswadi.
Dalam sambutannya, Ahmad Farid, menyampaikan ucapan selamat dan apresiasi atas terjalinnya kerjasama antara MTsN 2 Wonosobo dengan UNSIQ dan Politeknik Banjarnegara. Ia juga menghimbau agar guru senantiasa belajar dan belajar untuk meningkatkan kualitas, “harus ada kerjasama yang baik dari semua stake holder agar bisa mencapai hasil yang maksimal. Selain itu peningkatan kompetensi guru juga harus diperhatikan,” katanya.
Ucapan selamat juga disampaikan oleh Rektor Unsiq. Zaenal Sukawi, mengucapkan selamat kepada MTsN 2 Wonosobo yang sudah ditunjuk sebagai Madradah riset, “selamat kepada MTsN 2 Wonosobo. dan dengan adanya kerjasama ini, kami berharap akan membawa kebaikan bagi kedua pihak. Karena bagaimanapun cikal bakal MTsN 2 Wonosobo dan UNSIQ adalah dari satu pendiri seorang kyai bahkan tokoh legendaris KH. Muntaha Alhafidz,” tandasnya.
Selanjutnya, dalam sambutannya Yatiman, mengatakan bahwa dengan ditunjuknya MTsN 2 Wonosobo sebagai Madrasah Riset, memiliki beban yang harus diemban untuk mampu membuktikan eksistensi sebagai Madrasah Riset, “sehingga para guru dan peserta didik membutuhkan asupan ilmu seputar riset dan kepenulisan ilmiah dari para pakar di Perguruan Tinggi. Ilmuan yang ada di dua Universitas kami harap menjadi sosok peneliti yang sangat tepat untuk memberikan bimbingan teknis kepada para guru dan peserta didik,”tandasnya.
Sementara itu, berkaitan dengan pengembangan KIR di Madrasah, Tuswadi, merekomendasikan sejumlah langkah seperti membentuk tim terdiri dari minimal tiga guru sesuai kelompok keilmuwan,
“setiap guru membimbing KIR beranggotakan tiga sampai lima peserta didik. Anak-anak yang terseleksi KIR terlebih dahulu mendapatkan workshop teori penulisan karya ilmiah remaja dan diberi contoh buku kumpulan karya ilmiah remaja sebagai pegangan,” kata Tuswandi
Ia menambahkan, setiap guru mengajak KIR yang dibimbingnya untuk mencari masalah yang perlu diangkat ke penelitian dan ditulis hasilnya dalam karya ilmiah remaja. Guru membimbing proses riset sampai menghasilkan sebuah karya ilmiah. Slm-wsb