Jadikan Momen Isra’ Mi’raj Untuk Menciptakan Kesalehan Sosial

Surakarta – “Memperingati peristiwa isro’ dan mi’roj mempunyai arti yang penting untuk mengilhami nilai-nilai yang bisa dijadikan pedoman untuk kehidupan umat manusia dalam membangun moralitas bangsa,” papar Achmad Purnomo, Wakil Walikota Solo dalam sambutannya pada acara peringatan Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW  1440 H/ 2019 M, di Pendhapi Gedhe Balaikota Surakarta, Selasa (2/4)

Turut hadir pada acara tersebut Muspida Koordinator, Danrem, Muspida Kota Surakarta, Dandim, Polresta, Kepala Kejaksaan Negeri, Kepala Pengadilan, Pimpinan/anggota DPRD Kota Surakarta, Jajaran Pemkot Surakarta, Sekda Kota Surakarta, Asisten Pimpinan OPD Pemkot Surakarta, Ketua PHBI/Kepala Kemenag, dan tamu undangan.

Purnomo dalam sambutannya menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW, menurutnya,  sebagai seorang rosul, sekaligus pemimpin umat dalam situasi dan kondisi apapun tetap teguh dalam menjalankan tugasnya untuk melakukan perubahan dari segala bentuk keburukan menjadi kebaikan untuk kesejahteraan umat manusia. Oleh karena itu, mengimplementasikan nilai-nilai yang terkandung dalam spirit perjuangan Nabi Muhammad SAW sangat penting dengan harapan setiap pemimpin harus mampu menjalankan sistem ketatanegaraan secara lebih baik lebih amanah dan bertanggung jawab serta berahlak mulia, memiliki empati yang tinggi, mengedepankan kebersamaan, tegas dan tidak pandang bulu dalam penegakan hukum dan bijak dalam mengambil keputusan.

“Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, memperingati isro’ mi’roj dapat dijadikan modal motivasi para aparatur sebagai penyelenggara pemerintahan dalam proses pembangunan. Untuk itu, jika para aparatur negara mau terus mengkaji dan meneladani kepemimpinan Nabi Muhammad SAW, maka akan dapat membangun Indonesia menjadi bangsa yang tangguh, mandiri, berbudaya termasuk pembangunan di Kota Surakarta,” ujarnya.

Bertepatan dengan momen ini, Purnomo mengajak kepada seluruh warga Surakarta, khususnya umat islam untuk dapat saling menghormati dan saling menghargai satu dengan yang lainnya.

“Jika ada suatu masalah dapatlah dikomunikasikan dengan intansi atau lembaga terkait,” imbau Wawali yang sabar dan murah senyum itu.

Ia mengajak kepada kita yang hidup di negara pancasila yang menjunjung tinggi nilai-nilai  ketuhanan dalam setiap perikehidupan bermasyarakat dan berbangsa untuk menjadikan momentum isro’ mi’roj  menciptakan kondisi kesalehan sosial.

“Masalah perbedaan, tidak perlu dipertentangkan. Karena perbedaan adalah rahmat dari Tuhan YME. Marilah kita bahu membahu dalam membangun Kota Surakarta dengan mengembangkan lima budaya, yaitu budaya gotong royong, budaya memiliki, budaya merawat, budaya menjaga, dan budaya mengamankan kota Solo sehingga terwujud masyarakat Solo yang waras, wasis, wareg, mapan dan papan” pungkasnya.

Tausiyah disampaikan oleh KH. Fauzi Arkan dari Salatiga, mengupas tentang perjuangan Rosululloh Muhammad SAW ketika ditinggal wafat paman dan istri tercintanya Siti Khatijah r.a. menjelang peristiwa isro’ mi’roj.“Peristiwa Isro’ Mi’roj itu peristiwa cinta, cinta. Cintane Kanjeng Nabi (Muhammad) kepada (Siti) Khotijah, cintane Alloh kepada Kanjeng Nabi,” ujarnya.

Diakhir tausiyahnya, Fauzi berpesan agar umat rosul jangan pernah berhenti terhadap lima hal ; mencari ilmu,  bersyukur, bersedekah, silaturrahmi, dan dzikrul maut/mengingat mati. (sholeh-rma/bd)