Jadilah Anak Sholeh Jangan Jadi Anak Salah

Wonogiri – Di usia anak-anak adalah masa yang peka bagi pendidikan rohani, usia dimana jiwanya relative, lugu dan polos masih belum terlalu banyak tercoreng dengan kehidupan. Pelaksanaan latihan menasik haji pada anak RA dapat merupakan salah satu cara memberikan pengalaman pelaksanaan ibadah lengkap yang sedemikian rupa sehingga sangat berkesan dan tertanam dalam jiwanya yang masih polos dan nantinya menjadi bagian dari kepribadiannya yang agamis cenderung kepada perilaku sesuai tuntunan agama dan anak akan selalu ingat dengan aktifitas tersebut membentuk karakter anak sholeh.

Demikian di sampaikan Kasi Pendidikan Madrasah Kankemenag Wonogiri Drs. H. Ahmad Farid, MSI dalam acara Manasik Haji IGRA Kabupaten Wonogiri Tahun 2014 dalam rangka memperingati Hari Besar Islam Idul Adha 1435 H di Lambau Kecamatan Sidoharjo, Kamis 25 September 2014 yang di ikuti oleh siswa RA.

Selain itu Drs. H. Ahmad Fari, MSI menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut dalam rangka menjadikan karakter anak menjadi anak sholeh bukan anak salah, memang mengharukan sekaligus memberikan aura positif kepada perkembangan anak-anak. Kegiatan manasik haji bagi siswa RA ini memang wajib diperkenalkan kepada para anak-anak usia dini ini agar menjadi bekal iman untuk masa depannya.

Ada benarnya pepatah yang mengatakan mendidik anak secara keras dan disiplin di saat kecil ibarat mengukir diatas batu, sesuatu yang akan membekas kedalam memori mereka, apalagi usia anak-anak di rentang waktu taman kanak-kanak termasuk usia emas.

Adapun sebagai pembimbing latihan manasik haji H. Mursyidi, MSI Pranata Humas Kankemenag Wonogiri yang sekaligus pengurus IPHI memandu anak-anak latihan membaca doa dan mempraktekkan Thawaf, sai, tahallul dan melempar jamarot, selain itu juga menjabarkan makna umum Thawaf mengelilingi Kabah adalah wujud penyembahan dan penghormatan kepada Allah SWT, Sa’i ibarat melakukan kegiatan lari-lari kecil yang dilakukan istri Nabi Ibrahim dalam mencari air antara bukit Shafa dan Marwah. Sedangkan lempar jum’rah ibaratnya kita melempar batu kerikil kecil kepada dinding yang dianggap sebagai perwujudan setan penganggu manusia yang harus dihindari dan dilawan. (Mursyid – Heri)