Jaga Revolusi Mental Dalam Pelaksanaan Tugas

Banjarnegara – Diklat Di Wilayah Kerja (DDWK) dengan mengambil tempat Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banjarnegara yang dilaksanakan Balai Diklat Keagamaan Semarang telah terlaksana 1 pekan (9-14/7/18), dan hari Sabtu pagi (14/7/18) sebagai hari terakhir pembelajaran  .

Ucapan selamat di sampaikan Kepala Kankamenag yang diwakili Kasubbag TU, H. Sumarna.  Menurut informasi pelaksanaan DDWK berjalan lancar, dan dilaksanakan dengan semangat juga antusias. “Karena tidak semua ASN bisa mendapatkan diklat jenis ini, untuk itu perlu disyukuri,” ucap Sumarna.

Sesuai dengan PP No 87 tahun 2017 tentang penguatan pendidikan karakter adalah gerakan pendidikan di bawah tanggung jawab satuan pendidikan untuk memperkuat karakter peserta didik melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir dan olah raga dengan pelibatan dan kerjasama antara satuan pendidikan, keluarga dan masyarakat sebagai bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental Nasional (GNRM).

“Oleh karena itu saudara sekalian sebagai tenaga pendidikan dan kependidikan di satuan pendidikan memiliki peran yang sangat penting. Sehingga diharapkan hasil dari pelatihan ini bisa diterapkan pada satuan pendidikan masing-masing,” terang Sumarna.

Imam Al Ghozali telah mengilutrasikan 4 jenis manusia. Yang pertama seseorang yang tahu (berilmu) dan tahu bahwa dirinyanya tahu (berilmu). Yang kedua sesorang yang tahu dan tidak tahu bahwa dirinya tahu. Sedangkan yang ketiga adalah sesorang yang tidak tahu (tidak berilmu) dan tahu dirinya tidak tahu (tidak berilmu). Dan yang ke empat yakni sesorang yang tidak tahu dan tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu.

Dari ilustrasi di atas di harapan peserta bisa menjadi yang pertama, yaitu yang sudah mendapatkan pengetahuan juga mengamalkan ilmunya. Minimal menjadi yang ketiga yakni dia tidak berilmu namun mengetahui bahwa dirinya tidak berilmu, dengan belajar dan mencari pengetahuan.

“Jangan sampai menjadi jenis yang keempat, karena dia tidak memiliki ilmu tapi tidak sadar bahwa dirinya tidak berilmu, biasanya orang jenis ini sombong dan ngotot jika tidak memiliki ilmu,” tambahnya.

Sumarna berpesan agar sebagai guru perlu memberikan contoh gerakan nasional revolusi mental ini, selain di satuan kerja juga lingkungan masyarakat. Praktek revolusi mental perlu dijaga dalam prakteknya juga d barengi dengan niat baik. Usai ditutup, Sumarna menyampaikan ucapan selamat jalan kepada rombongan Widyaiswara yang dipimpin oleh H. Jam`an.

“Semoga selamat pulang kembali kerumah masing-masing, dan juga Balai Diklat,” pungkasnya. (nangim/sua)