Jamun: Agama Islam Sangat Lengkap Membahas IPTEK

Cilacap – Agama Islam dengan kitab sucinya Al Qur’an memuat ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat lengkap. Salah satunya adalah keterangan manusia yang melakukan perjalanan hingga ke angkasa luar. Yakni peristiwa Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad saw. Yang mana menghasilkan kewajiban shalat lima waktu bagi umat Islam.

Di dalam keterangan, bahwa sebelum melakukan Isra’ dan Mi’raj, Nabi terlebih dahulu dioperasi dengan dihilangkan penyakit hatinya. Yakni dengan dicuci hatinya menggunakan air zam-zam. Peristiwa ini jauh lebih dulu ada di dalam agama Islam sebelum manusia lain mengenal teknologi canggih. Bahkan kecanggihan teknologi yang diterapkan merupakan teknologi yang maha canggih dan tiada akan ada duanya di dunia ini. Salah satu buktinya adalah perjalanan angkasa luar bolak-balik hanya dalam waktu satu malam.

Pernyataan tersebut dekemukakan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Cilacap, Jamun pada peringatan Isra’ dan Mi’raj, Kamis (5/4) di Masjid Agung Darussalam Cilacap.

“Kita sebagai umat Islam keliru jika agama Islam tidak membahas teknologi. Bagaimana proses penciptaan alam semesta, sistem tata surya, hingga penciptaan manusia bahkan cara pengendalian seluruh alam baik yang lahir maupun ghaib, semua disebutkan dalam Al Qur’an. Hanya saja sebelum kita mempelajari teknologi, terlebih dahulu harus dibekali dengan ilmu tauhid atau keesaan Allah. Sehingga nantinya semakin menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi akan bertambah pula imannya kepada Allah SWT,”Tegasnya.

Dijelaskan bahwa, yang harus dipahami pertama adalah urutan keilmuan yang harus dipelajari. Yakni, sebagaimana wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad yang pertama adalah membaca dengan nama Tuhan Sang Pencipta. Membaca di sini bukanlah dalam arti sempit, yakni hanya sebatas melafalkan tulisan berupa huruf-huruf. Membaca dalam arti sesungguhnya adalah menggunakan seluruh kemampuan manusia untuk mengetahui apa yang menjadi tujuan hidup dalam kehidupannya.

Hal tersebut dijelaskan pada keadaan riil Nabi Muhammad saw yang buta huruf dan kitab Qur’an juga belum ada. Sehingga membacanya umat Islam tidaklah sesempit makna membaca yang sekarang pada umumnya. Karenanya umat Islam diharapkan terus mengkaji segala sesuatu melaui penglihatan, pendengaran, perasaan dan fikiran terhadap segala situasi yang dialaminya.

Tentunya, membaca atau belajarnya umat Islam harus pada guru, ustad ataupun kiyai yang sudah memahami ilmu ketauhidan yang baik. Cara ini agar tidak terjadi pemahaman yang keliru terhadap agama Islam. Karena kriteria keberhasilan umat Islam adalah dilihat dari akhlaknya. Kelembutan pribadi sebagai tolak ukur utama di samping penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, pungkasnya.(On/bd)