Jamun, Silakan Berbeda Teknis Berdoa

Cilacap – Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Cilacap, Jamun, Jumat (24/3) berkesempatan memberikan khutbah Jumat di Masjid Baiaturridlwan MAN Majenang. Salat Jumat dilaksanakan usai pelaksanaan UAMBN.

Dalam khutbahnya, dia menegaskan, bahwa berdoa merupakan pedangnya orang Islam. Sedangkan teknisnya bisa bermacam-macam. Misalnya bisa denguan jahr (keras) maupun sir (tidak bersuara). Hal ini terkait maraknya kegiatan istigosah menjelang pelaksanaan ujian nasional (UN).

“Bila ada yang mengatakan bahwa istigosah itu tidak tidak sesuai dengan situasi dan kondisi menjelang UN, ya biarkan saja. Kan selera masing-masing berbeda. Yang senang dengan cara Jahr ya jangan mengata-ngatai yang suka sir dan sebaliknya. Yang pasti usaha manusia merupakan manifestasi dari doa yang dipanjatkan. Sehingga antara doa dan berusaha merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisah-pisahkan. Karenanya, silakan budaya istigosah untuk terus dilaksanakan. Istigosah bukan untuk lomba menangis maupun meratapi. Orang yang berhaji saja ketika di Arafah agar berdoa dengan sungguh-sungguh dengan ditandai linangan air mata,”katanya.

Dijelaskan lebih lanjut bahwa istigosah bukan merengek-rengek kepada Allah Swt. Tetapi sedang mengutarakan isi hati dan pikiran bahwa orang tersebut mempunyai tujuan tertentu. Sehingga pihaknya menghimbau agar perbedaan teknis tidak membuat orang saling mencibir.

Pembentukan Karakter

Sementara itu, Kepala MAN Majenang, Hamid Alwi mengatakan, bahwa kegiatan salat Jumat digelar sebagai cara membentuk karakter. Selain berjamaah, para siswa digilir untuk menjadi khotib (petugas khutbah) maupun muadzin (tukang adzan). Para guru bertindak sebagai pembimbing dan fasilitator. Sehingga nantinya, setelah mereka menyelesaikan studinya di MAN Majenang dan kembali ke masyarakat, mereka sudah siap seratus persen. Atau akan menjadi nilai plus bagi mereka yang melanjutkan ke jenjang berikutnya.

Kegiatan salat Jumat yang rutin digelar wajib diikuti oleh seluruh siswa, terutama putra. Bagi siswa putri yang mengikutinya, juga dipersilahkan. Aktifitas salat Jumat menurutnya sebagai salah satu nilai jual tersendiri terhadap masyarakat. Mereka merasa senang karena melihat kemampuan para siswa bisa menjadi petugas pada salat Jumat.  (clc/bd)