Jangan di Ninabobokan LKS, Guru harus Tingkatkan Kemampuan Membuat Soal

Banjarnegara – Pendidikan Agama Islam di Sekolah mulai meningkatkan kualitasnya dengan adanya USBN (Ujian Sekolah Berstandar Nasional) sebagai evaluasi proses hasil pembelajaran kepada siswa. USBN PAI juga sebagai alat ukur kompetensi siswa,kinerja guru, kinerja satuan pendidikan dalam meningkatkan kualitas pendidikan agama Islam.

Demikian disampaikan Kepala Kantor Kementerian Agama kabupaten Banjarnegara, Masdiro pada Rapat Kooridinasi USBN PAI tingkat SD pagi ini di Aula Kantor. Kegiatan yang mengundang peserta 47 yang terdiri dari Pengawas TK/SD dan Pengurus KKG  PAI merupakan finalisasi dari perencanan kegiatan USBN PAI SD yang akan dilaksanakan.

Kakankemenag menyoroti KKG  (Kelompok Kerja Guru) PAI sebagai sebuah  organisasi profesi. Organisasi  ini diharapkan bisa sebagai wadah  dalam menyampaikan informasi dan peningkatkan kompetensi pendidik. “Pelaksanaan kegiatan yang  ada bisa sebagai ajang silaturrahmi guru PAI baik di kecamatan maupun kabupaten guna memecahkan masalah, juga media mencari solusi dalam peningkatan kompetensi guru  PAI,” jelas Masdiro.

Kegiatan ini merupakan kelanjutan perencanaan USBN tapel 2016/2007  yang sudah diawali dengan  sosialisasi, pembinaan terkait USBN, telaah kisi dan teknis penulisan soal, dan pemaparan dan telaah soal yang dibuat akan dilaksanakan kali ini. 

Masdiro berharap melalui kegiatan ini, guru mulai harus bisa bangun kreatifitas dan kemampuan membuat soal, karena beberapa  tahun terakhir LKS mengambil alih peran guru dalam kegiatan evaluasi. Guru di manjakan dengan LKS yang dibuat oleh penerbit padahal profesionalisme seorang guru menuntut guru mampu membuat soal sebagai bahan evaluasi pembelajaran. “Jangan dininabobokan dengan LKS, mari bangun dan tingkatkan kemampuan membuat soal  sendiri,” tegasnya.

Pada rakor akan di paparkan paket soal yang sudah di buat oleh kordinator. Soal tersebut ditelaah agar pas  dan sesuai dengan konsep penulisan yang sudah terlaksana pada  kegiatan sebelumnya.

Hasil dari kegiatan, di harap bisa menghasilkan 23  paket soal yang terdiri dari 20 paket soal berbasis KTSP dan 3 soal berbasis  Kurtilas. Paket soal nantinya bisa di kembangkan di sekolah  masing-masing  sebagai bahan tray out ataupun pembuatan soal yang serupa sesuai kisi-kisi yang ada.  (Nangim/Af)