Jum’at Agung, Umat Kristiani Wonogiri Akan Ikuti Prosesi Jalan Salib

Wonogiri – Sesuai rencana kegiatan ritual prosesi Jalan Salib atau visualisasi kisah sengsara Yesus kristus akan digelar jemaat Gereja Paroki Santo Yohanes Rasul Wonogiri di Gunung Gandul, Kelurahan Giriwono dan Giripurwo, Wonogiri, Jumat (30/04). Ratusan umat Katolik akan memadati panggung alam tersebut untuk beribadah sekaligus mengenang pengorbanan Yesus dalam balutan drama teatrikal.

Dalam settingan acara setelah teaterikal tersebut, umat Katolik dibagi menjadi beberapa kelompok menuju tanah lapang di bawah puncak Gunung Gandul untuk melihat prosesi penyaliban Yesus. Mereka dipandu seorang prodakion. Kegiatan ini merupakan rangkaian dari kegiatan paskah 2018.

Dalam perjalanan, mereka berhenti di setiap pemberhentian dan memanjatkan doa. Terdapat lima pemberhentian dalam perjalanan tersebut. Setiap pemberhentian merupakan kejadian demi kejadian yang dialami Yesus dalam proses penyaliban. Mulai dari pemanggulan salib, kejatuhan, perjumpaan dengan Ibu, menghibur wanita menangis, hingga penyaliban di pemberhentian terakhir.

Hal tersebut di sampaikan Penyelenggara (Gara) Katolik Kankemenag Wonogiri, Antonius Sukatno di dampingi Pengawas Pendidikan Agama Katolik, Yuliana Setyaningsih di ruang kerjanya, menanggapi penyelenggaraan kegiatan skaral di kota gaplek tersebut, Kamis (29/04).

Melalui peristiwa wafatnya Yesus Kristus, menurut  Antonius Sukatno  sebagai bagian dalam rangkaian perayaan Paskah tahun ini, maka  di harapkan seluruh umat kristiani bersama-sama bisa mewujudkan damai sejahtera, menciptakan ketenangan, mewujudkan toleransi karena adanya perbedaan, terciptanya kedamaian, dan kerukunan ditengah-tengah keluarga, masyarakat, gereja dan Negara.

Perdamaian selalu didambakan oleh umat manusia, sejak awal Allah menghendaki agar manusia hidup dengan kedamaian dan keadilan, tetapi perdamaian tidak akan pernah terbina apabila manusia selalu mementingkan diri sendiri, dan tidak  dapat mengendalikan nafsu-nafsunya dari keserakahan. Perdamaian juga tidak akan  terwujud apabila masalah kemiskinan dan tidak dapat diatasi.

“Paskah senantiasa menghadirkan suasana damai dan semangat suka cita bagi seluruh umat manusia yang telah ditebus oleh kuasa kebangkitan-Nya. Melalui visualisasi itu, umat diajak berefleksi, mengenang penderitaan Yesus. Yakni ketika mulai ditangkap, dicela, disiksa, dan akhirnya mati dikayu salib,” jelas Anton. (Mursyid_Heri/Wul)