Ka Kankemenag : Guru Adalah Benteng dari Gerakan Radikalisme

Boyolali (Humas) – Guru agama sebagai tenaga pendidik mempunyai peran penting dalam mencegah gerakan radikalisme pada tingkat dasar dan remaja. Pendidikan agama yang disampaikan oleh guru memberikan dasar pemahaman tentang bagaimana cara beragama yang baik dan benar. Pemahaman tentang cara beragama yang baik dan benar mampu menghindarkan siswa dari paham radikalisme.

Hal tersebut disampaikan oleh Fahrudin, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Boyolali pada acara silaturrahmi Guru Pendidikan Agama Kristen, Katolik, Hindu dan Budha di Aula Gereja Santa Perawan Maria Tak Bernoda Boyolali. Acara yang diselenggarakan pada Kamis, (28/03) tersebut diikuti oleh 35 orang perwakilan guru pendidikan agama kristen, katolik, hindu, dan budha se Kabupaten Boyolali.

“Guru adalah benteng gerakan radikalisme bagi siswa siswi di lingkungan sekolahnya,” ujar fahrudin.

Didampingi penyelenggara katolik, Fahrudin menjelaskan bahwasannya akhir- akhir ini gerakan radikalisme mulai ada di Indonesia. Dari pemberitaan di media elektronik, tercatat ada beberapa rumah ibadah yang terindikasi telah terpapar oleh gerakan radikalisme. Begitu juga ada beberapa lembaga pendidikan di Indonesia ada yang mulai disusupi oleh gerakan radikalisme. Inilah yang menjadi tugas bagi guru agama, tidak hanya islam tetapi seluruh agama yang ada di Indonesia untuk membentengi murid murid dari bahaya gerakan radikalisme.

“Dari pemberitaan, kita semua tahu bahwa ada beberapa rumah ibadah dan lembaga pendidikan yang terindikasi terpapar gerakan radikalisme, tugas kita para guru agar jangan sampai gerakan radikalisme masuk ke sekolah,” jelasnya

Fahrudin juga menegaskan, bahwasannya gerakan radikalisme seyogyanya tidak tumbuh di negara yang mempunyai nilai toleransi tinggi. Indonesia sebagai negara yang terdiri dari berbagai suku bangsa dan agama, mempunyai beribu budaya dan kearifan sosial dan telah teruji selama lebih dari 73 tahun kemerdekaan merawat dan menjaga kebhinekaan serta toleransi tidak akan mudah dipecah oleh gerakan radikalisme. Masyarakat yang hidup di Indonesia mempunyai akar budaya yang kuat untuk menolak gerakan dan faham radikalisme.

“Indonesia telah terbukti selama lebih dari 73 tahun merawat kebhinekaan dan toleransi, tidak ada satu budayapun di Indonesia yang tidak mengajarkan toleransi,” tegasnya.

Selanjutnya, Fahrudin mengharapkan agar para guru dalam memberikan pengajaran kepada murid agar memberikan pelayanan yang prima. Melayani murid sebagai orang yang membutuhkan ilmu pengetahuan dengan sebaik baiknya seolah olah sedang mendidik anaknya sendiri. Dengan memberikan pelayanan yang prima kepada murid, diharapkan murid dapat menyerap ilmu yang diajarkan oleh guru secara utuh tanpa ada pemahaman yang terpotong.

“ Layani murid dengan sebaik baiknya, berikan pemahaman tentang agama secara utuh, jangan hanya sepotong – sepotong” pungkas fahrudin. (jaim/rf)