Kakankemenag Sukoharjo Anjurkan Sholat Ghoib dan Qunut Nazilah

Sukoharjo – Miris, mungkin kata itu yang akan terlintas dibenak kita manakala menyaksikan berita di beberapa media tentang tragedi kemanusiaan berbau sara yang terjadi di Rohingnya, banyak orang harus mengungsi meninggalkan rumahnya, anak-anak kehilangan tempat bahkan teman bermainnya.

Oleh karenanya Kantor Kementerian Agama bersama Polres Sukoharjo merasa perlu untuk melakukan rapat koordinasi lintas sektoral guna menjaga kondusifitas Kamtibmas khususnya di Wilayah Sukoharjo.

Rakor bertempat di Gedung Koperasi IPA Kankemenag Rabu (6/9) dipandu oleh Kakankemenag Kabupaten Sukoharjo Ihsan Muhadi, Kapolres Sukoharjo AKBP Iwan Saktiadi, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sukoharjo K.H. Yazid Anwari dan Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Suparno.

Rakor tersebut juga dimaksudkan sebagai bentuk upaya untuk menindak lanjuti larangan Polda Jateng terkait aksi damai yang akan digelar di sekitar kawasan candi Borobudur, Magelang. Secara tegas Kapolres melarang segala bentuk aksi disekitaran bangunan cagar budaya karena berpotensi menjadi kegiatan yang kontraproduktif dan melanggar undang-undang dan lebih menganjurkan untuk melaksanakan sholat Ghaib seusai Sholat jum’at di Masjid.

Sebagai Negara muslim terbesar didunia sudah selayaknya jika Indonesia turut aktif meredakan konflik tersebut. Berbagai aksi solidaritas dari elemen masyarakat sebagai bentuk upaya menentang tragedi kemanusiaan itu pun muncul dengan sendirinya, yang terpenting adalah jangan sampai aksi tersebut justru menciderai nilai kemanusiaan itu sendiri.

Di mata dunia Indonesia adalah Negara besar yang memiliki berbagai macam suku, ras dan agama namun bisa hidup berdampingan, rukun dan damai , maka segala bentuk aksi solidaritas pun harus didasari oleh spirit tersebut. Kakankemenag menghimbau agar aksi solidaritas lebih bisa diwujudkan dalam bentuk penggalangan dana yang dapat disalurkan melalui lembaga-lembaga yang kredibel serta menghimbau seluruh Kepala KUA dan khususnya seluruh penyuluh untuk berperan aktif dalam rangka mengawal aksi solidaritas yang muncul dari masyarakat dengan cara memberikan ceramah-ceramah yang menyejukkan.

“Mengajak kepada para kepala KUA dan penyuluh agama untuk bersama-sama membantu mewujudkan ketertiban dengan cara memberikan tausyiah-tausyiah yang menyejukkan dan melaksanakan sholat ghaib serta Qunut Nazilah, dan membantu masyarakat yang ingin menggalang dana serta menyalurkannya ke lembaga resmi,” pesan kakankemenag.

Senada dengan hal tersebut ketua MUI Sukoharjo lebih menganjurkan agar kegiatan aksi solidaritas atas tragedi kemanusiaan yang menimpa kaum Rohingnya bisa dilakukan dengan penggalangan dana dan meminta agar  umat Islam tidak terprovokasi dengan isu-isu yang berpotensi memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.

Ketua FKUB Sukoharjo juga mengingatkan bahwa aksi solidaritas Rohingnya harus tetap mengaplikasikan Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI sebagai empat pilar kebangsaan untuk menjaga kerukunan antar umat beragama. Kegiatan tersebut juga dihadiri oleh elemen pemuda seperti Gerakan Pemuda (GP) Ansor dan Pemuda Muhammadiyah. (Djp/Wul)