Kakanwil Himbau Hindari Kecurangan dalam Ujian

Ungaran (Inmas) – Dalam rangka sukses menghadapi penyelenggaraan UAMBN, Kantor Kementerian Agama Kab. Semarang mengadakan Sosialisasi UAMBN. Sekitar 230 orang terdiri atas Pengawas Madrasah, Kepala MTs dan MA serta para calon pengawas UAMBN se Kab. Semarang hadir di Aula MTsN Susukan untuk mengikuti sosialisasi. Dalam kesempatan itu hadir pula Kepala Kankemenag Kab.Semarang, Subadi beserta Kasi Pendidikan Madrasah.

Lima tahun terakhir, madrasah di Jawa Tengah secara substansial mengalami perubahan yang dapat dilihat dengan dua hal : 1) prestasi madrasah, baik secara kelembagaan, pendidik dan tenaga kependidikan serta para peserta didik di tingkat nasional maupun internasional mampu menduduki posisi yang membanggakan. 2) secara kuantitas, tidak sedikit madrasah yang terpaksa menolak pendaftar murid baru karena tidak tersedianya sarana prasarana. Tingkat kekayaan masyarakat kepada madrasah semakin tinggi. “Ini semua tidak lepas dari jerih payah keluarga besar madrasah dan Kementerian Agama,” kata Farhani.

Diingatkan bahwa dimanapun seorang aparatur pada dasarnya merupakan sebuah amanah. Perjuangan dan keihlasan dalam bekerja ditunjang dengan semangat untuk bekerja lebih baik menjadi keniscayaan untuk peningkatan kualitas kinerja. Untuk itu, jelas Farhani, agar selalu didasarkan pada 5 nilai Budaya Kerja: integritas, profesionalitas, inovasi, tanggungjawab, dan keteladanan.

Terkait dengan pelaksanaan ujian, Kakanwil berpesan, agar madrasah bisa menjadi teladan sebagai penyelenggara ujian yang bertanggung jawab, bersih, jujur, profesional yang bebas dari kebocoran. “Jangan sampai ada berita kecurangan penyelenggaraan ujian di madrasah,” himbaunya.

Lakukan inovasi untuk meningkatkan prestasi dengan cara cara yang elegan dan bertanggungjawab, sambungnya, sehingga Tri Sukses (Sukses Perencanaan, Sukses Penyelenggaraan, Sukses Hasil) bisa diwujudkan.

Diakui bahwa sarana prasarana madrasah belum semuanya bisa dibilang baik, tetapi agar keterbatasan tersebut tidak dijadikan alasan bagi madrasah untuk tidak berprestasi. Justru dengan sarana prasarana yang terbatas itu dijadikan motivasi untuk meningkatkan prestasi. Belajar dari pondok pesantren yang para santrinya mengikuti program beasiswa santri berprestasi yang masuk di perguruan tinggi ternama terbukti mampu bersaing bahkan mengalahkan mereka yang berasal dari sekolah/madrasah unggulan.

Demikian pula diingatkan kepada para guru agar dengan semakin baiknya kesejahteraan degan diterimanya berbagai tunjangan, agar tidak menjadikan lupa diri untuk meningkatkan kompetensi baik kompetensi paedagogis, kompetensi profesional, kompetensi sosial, maupun kompetensi kepribadian.

“Saya titip kompetensi kepribadian guru ini diperhatikan. Saya tidak dapat menghentikan pengaduan, saya jamin setiap pengaduan akan ditindak lanjuti dan diproses sesuai ketentuan yang ada,” tandasnya.

Konsekwensi kita sebagai guru madrasah adalah melakukan pelayanan pendidikan sebaik baiknya dengan dilandasi akhlakul karimah sehingga dapat dijadikan teladan bagi masyarakat. “Usahakan para murid madrasah mampu menjadi yang terbaik pada setiap ujian,” pungkas Kakanwil. (fat/gt)