Kakanwil : Internal Agama lebih berpotensi konflik

<p><b>Kudus</b> – Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah bekerjasama dengan BNPT, hari ini menyelenggarakan Halaqah Kebangsaan bagi Mubalig dan Pengasuh Pondok Pesantren. Bertempat di Pondok Pesantren Darul Falah Jekulo Kudus, kegiatan dengan tema “Reaktualisasi Strategi Dakwah Walisongo menuju Islam Rahmatan lil Alamin”. Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah, hadir sebagai narasumber.

<p>Dalam kesempatan tersebut, Ahmadi menyampaikan bahwa pada dasarnya misi Kementerian Agama merupakan misi umat untuk mewujudkan kehidupan beragama yang lebih baik. “Banyak sekali kegiatan yang bisa dilakukan bersama dengan masyarakat. Berbagai lembaga pendidikan dikelola oleh masyarakat dengan kualitas yang membanggakan,” kata Ahmadi.

<p>Dijelaskan oleh Kakanwil bahwa radikalisme adalah suatu paham yang dibuat-buat oleh sekelompok orang yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik secara drastis dengan menggunakan cara-cara kekerasan. Bila dilihat dari sudut pandang keagamaan dapat diartikan sebagai paham keagamaan yang fundamental dengan fanatisme keagamaan yang sangat tinggi, sehingga tidak jarang penganut dari paham / aliran tersebut menggunakan kekerasan kepada orang yang berbeda paham / aliran untuk mengaktualisasikan paham keagamaan yang dianut dan dipercayainya untuk diterima secara paksa.

<p>Dalam upaya pencegahan berkembangnya ideologi radikal di masyarakat, Kementerian Agama sebagai institusi pemerintah melaksanakan upaya antara lain : menumbuhkan semangat 6 pilar dalam dunia pendidikan (Keindonesiaan, Keislaman, Keilmuan, Kemodernan, Kemandirian, dan Keumatan), mengoptimalkan penyiaran melalui penyuluh, kursus calon pengantin sebagai upaya mewujudkan keluarga sakinah, penguatan oraganisasi Takmir Masjid, serta pemetaan aliran keagamaan.

<p>Kakanwil mengimbau kepada masyarakat untuk senantiasa memahami ajaran agama secara menyeluruh, tidak sepotong-sepotong sehingga mampu memberikan iklim sejuk dalam kehidupan beragama. “Tumbuhkan sikap saling menghormati dan menghargai intern dan antar umat beragama,” himbau Ahmadi. Saling menghormati sesama pemeluk agama sangat ditekankan karena sesungguhnya potensi konflik itu terjadi pada salah satu agama bukan antar agama. (fat)