Kakanwil : Mantapkan hati dan luruskan niat dalam berhaji

KudusKPRI Al Ikhlas Kankemenag Kab. Kudus pagi ini menyelenggarakan kegiatan Pembinaan, Halal bi Halal, dan Pelepasan Jamaah Haji PNS Kantor Kementerian Agama Kab. Kudus diikuti oleh 550 pegawai (anggota KPRI) terdiri atas guru, kepala madrasah negeri, pengawas, pegawai Kankemenag, penyuluh, kepala KUA, para pejabat eselon III dan IV di lingkungan Kankemenag Kab. Kudus.

Ketua KPRI Al Ikhlas Kankemenag Kab Kudus, H. Suhadi melaporkan bahwa kegiatan ini dilaksanakan untuk bisa menambah erat tali silaturahmi antar anggota. Dengan kegiatan semacam ini aspek pembinaan kepegawaian bisa tercapai sekaligus memperoleh pencerahan dalam bidang perkoperasian yang bisa didapat oleh seluruh anggota. “Kebanyakan kegiatan koperasi hanya bisa diikuti oleh pengurus saja, study banding misalnya, tidak bisa dirasakan oleh anggota. Tetapi dengan kegiatan semacam ini bisa dirasakan oleh seluruh anggota dan yang paling penting tidak mengurangi SHU”, ungkap Suhadi yang disambut aplause peserta.

Pembinaan disampaikan oleh Drs. H. Khaeruddin, MA, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah dan H. Ruslan, Ketua Pusat KPRI Kab. Kudus. Kakanwil menyampaikan hikmah halal bi halal. Dia mengajak untuk saling memaafkan dan membuka lembaran baru dengan pergaulan yang lebih baik.

Terkait dengan jamaah haji, Kakanwil menyampaikan bahwa cuaca panas di KSA supaya disikapi dan diantisipasi dengan baik supaya pada saatnya ibadah haji kondisi badan tidak terganggu dengan masalah kesehatan. Untuk itu jamaah jangan terlalu capai mulai sejak pemberangkatan di embarkasi, penerbangan yang lama serta setibanya di Saudi Arabia. Kepada para pengantar diharapkan hanya sampai di Kabupaten saja, tidak perlu mengantar ke embarkasi. “Beri kesempatan kepada jamaah supaya bisa beristirahat karena penerbangan yang akan dilalui memakan waktu yang lama, 9 hingga 10 jam”, himbau Kakanwil.

Jamaah haji diingatkan supaya mulai menata hati, memantapkan sekaligus meluruskan niat ibadah haji hanya untuk Allah swt. Sehingga seluruh persiapan, biaya, tenaga, dan waktu untuk beribadah bisa dimanfaatkan sebaik mungkin yang pada akhirnya bisa menjadi haji mabrur.

Kakanwil juga menyoroti tentang pentingnya peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat untuk mewujudkan pelayanan prima. Kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas sangat dibutuhkan khususnya di era reformasi birokrasi ini. Hal ini bisa dilakukan dengan memperhatikan 9 budaya kerja, yaitu: 1) Menjunjung tinggi kejujuran dan integritas, 2) Menjunjung tinggi etika, akhlak mulia dan keteladanan, 3) Menghormati peraturan dan keputusan, 4) Bertanggung jawab dalam pekerjaan dan mampu melaporkan kinerja, 5) Menghormati hak orang lain dan tidak mudah menyalahkan orang lain, 6) Mencintai pekerjaan dan mau bekerja keras, 7) Keterbukaan dan kerjasama, 8) Sikap disiplin yang tinggi, dan 9) Sikap bersahaja dalam hidup dan kehidupan.

Menutup uraiannya, Kakanwil mengingatkan bahwa masyarakat kita butuh bimbingan dan pencerahan terkait dengan bahaya radikalisme yang menodai ideologi islam yang rahmatan lil alamin. Masyarakat membutuhkan penjelasan dan penguatan supaya tidak jatuh dalam paham radikalisme yang saat ini sangat gencar menyerang masyarakat muslim di Indonesia. Demikian pula masalah kerukunan umat beragama supaya dijaga keharmonisannya dengan saling menghormati antar pemeluk agama, tidak memaksakan kehendak apalagi sampai mengganggu ataupun melakukan tindakan yang merugikan. (fat)