Kakanwil : Rasydul Qiblat Jemaah Meningkat

Semarang – Kepala Kantor Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah memberitahukan adanya Rashdul Kiblat pada sebagai tindak lanjut pers release dari Kementerian Agama RI dari Dirjen Bimas Islam.“Bahwa kita ketahui berdasarkan hitungan data astronomi, Jumat (27/5/2016) pukul 16.18 WIB, matahari akan melintas tepat di atas Kakbah,” tutur Ahmadi saat diwawancarai di ruang kerjanya.

Ahmadi menambahkan bahwa metode penentuan rasydul qiblat dapat memakai tehnik dengan bantuan alat (tali, tongkat), seperti kita ketahui sejak dulu praktek ini sering diberikan kepada santri/siswa Diniyah untuk mengetahui waktu sholat, namun praktek ini jika diterapkan untuk arah kiblat harus posisi lurus dengan Ka’bah di Makkah.

“Bagi yang mahir ilmu falak, arah kiblat bisa dilakukan dengan menggunakan penghitungan matematis menggunakan rumus segitiga bola atau yang dikenal dengan Spherical Trigonometri dengan mengetahui terlebih dahulu koordinat Lintang dan Bujur, baik Ka’bah maupun lokasi yang akan diukur,” terangnya.

“Peristiwa Rasydul Qiblat” Ahmadi menganggap tetap menjadi perhatian masyarakat, akademik, ormas dan lain-lain. Alasanya, peristiwa ini termasuk memelihara khazanah keilmuwan ilmu falak atau astronomi.” Tegas Ahmadi.

Selanjutnya Ahmadi,  tugas dan fungsi Kementerian Agama adalah sifatnya melakukan fasilitasi, sosialisasi bersama masyarakat, ormas dan tidak memaksa pula bagi masjid-masjid untuk melakukan“rasydul qiblat”. Mengapa demikian kata Ahmadi, di Jawa Tengah seperti Masjid Agung Demak rasydul qiblatnya masih tetap/tidak ada perubahan, dan apakah kita tahu karena masjid sejarah, tutur Ahmadi “sangat mungkin dan beralasan”.

Namun lanjut Ahmadi, “berubah dan tidaknya qiblat masjid jangan menjadi persoalan, sebab belajar ilmu itu supaya menjadi ilmuwan”, dan jika sudah menjadi ilmuwan kita yakin “andai pada seseorang, maka orang itupun akan bijak dan arif”.

“Hubungan dengan “rasydul qiblat” untuk situasi masjid se Jawa Tengah, Ahmadi, berharap “yang terpenting jamaah masjid bertambah banyak, khusyu’ agar menjadi muttaqien sebagai bekal dunia dan akhirat” tegas Ahmadi. Lanjut, sebab antara merubah dan menetapkan kiblat masing-masing mempunyai rujukan dari pendapat/qoul imam madzhab dan ulama terdahulu, tutur Ahmadi. (ali).