Kakanwil Resmikan Mahad MTsN Wirosari

Grobogan – Demi memenuhi permintaan dan kebutuhan masyarakat akan hadirnya pondok pesantren, memasuki usia ke-19 tahun, MTsN Wirosari Grobogan meresmikan Ma’had (Ponpes/Boarding) yang telah dirintis sejak bulan september 2015 lalu. Sebagaimana pondok pesantren, Ma’had yang diberi nama Manbaus Syarif ini berkonsentrasi pada ilmu-ilmu agama, qiraatul kutub, dan penggunaan bahasa pengantar Bahasa Arab dan Bahasa Inggris. Hal itu sebagaimana dilaporkan oleh Adibatus Syarifah, Kepala MTsN Wirosari Grobogan dalam acara Milad ke-19 MTsN Wirosari. Untuk itu, Adib menyampaikan terima kasih atas dukungan dari seluruh pihak yang telah membantu program kegiatan yang direncanakan bisa dilaksanakan dengan baik untuk menuju madrasah yang lebih baik, mencetak murid yang berakhlak mulia, dan mampu mengaplikasikan ilmu pengetahuannya di masyarakat.

Peringatan Milad ke-19 diselenggarakan di Aula madrasah setempat dan dihadiri oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah, Kepala Kantor Kementerian Agama Kab. Grobogan, Camat Wirosari beserta Muspika, para kepala madrasah negeri di Grobogan, komite madrasah dan para wali murid.

Dengan adanya program baru ini dibutuhkan perhatian khusus dan dipersiapkan sumber daya dan sarana penunjang, sekaligus antisipasi atas segala kemungkinan yang bisa terjadi yang bisa mengganggu jalannya pembelajaran di ma’had. Diharapkan, program yang baru dirintis ini bisa terus dikembangkan dan dikelola dengan baik. Jangan sampai ada hal meski kecil yang bisa merusak citra baik madrasah secara makro. Untuk itu perlu adanya bimbingan dan pengawasan yang intensif baik dari madrasah sendiri maupun dari kementerian agama.

Madrasah bisa besar bukan karena pengelolaannya semata tetapi madrasah bisa besar berkat dukungan masyarakat dan para tokoh agama dan tokoh masyarakat setempat. Keterlibatan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan akan sangat berpengaruh terhadap kemajuan madrasah. Dengan adanya boarding di madrasah, ini menunjukkan salah satu bentuk keterlibatan masyarakat dalam perkembangan madrasah. Madrasah menurut Ahmadi dibagi menjadi dua jenis, madrasah reguler (berbasis agama, berbasis ilmu pengetahuan, berbasis ketrampilan) dan madrasah inklusif, madrasah yang memberikan pelayanan kepada anak yang membutuhkan perhatian khusus. Anak berkebun khusus tetap bisa mengikuti pembelajaran di madrasah dengan perlakuan khusus dan dibimbing oleh tenaga khusus pula.

Dalam rangka untuk memperhatikan generasi ke depan, anak-anak yang telah memiliki akhlakul karimah, anak yang berilmu pengetahuan, anak yang berkarakter bisa terlahir dari madrasah yang dimulai dari perbaikan SDM tenaga pendidik dan kependidikan. SDM yang berkompeten mempunyai karakteristik: mampu dan berdaya, terampil dan berpengalaman, memiliki jati diri, memiliki karakter fisik yang jelas, dan mampu memanfaatkan aspek psikologis dan religius.

Terkait dengan paham radikalisme yang akhir-akhir ini marak, Kakanwil menghimbau agar kegiatan di madrasah dapat dipantau secara intensif dan mengoptimalkan koordinasi dan komunikasi dengan orang tua sehingga sikap dan perhatian orang tua terhadap anaknya untuk mengarahkan kegiatan-kegiatannya kepada hal yang positif. Usai menyampaikan sambutannya, Kakanwil meresmikan Ma’had dengan penandatanganan prasasti serta peletakan batu pertama pembangunan ma’had tahap kedua. Berkesempatan meletakkan batu berikutnya, Kepala Kantor Kementerian Agama Kab. Grobogan, Camat Wirosari, dan Kepala MTsN Wirosari. (fat/gt)