Karya Guru MAN 1 Surakarta Ini Dibedah Dalam Workshop Penulisan Buku

Surakarta – Guru adalah profesi yang tidak bisa lepas dari kegiatan tulis menulis. Namun fakta masih banyak guru yang kurang rajin menulis, padahal guru adalah profesi yang berlimpah gagasan untuk ditulis dan dibagikan kepada orang lain, sebab mereka selalu aktif berinteraksi dengan warga sekolah dan masyarakat, sehingga langsung maupun tidak langsung mudah memperoleh ide-ide segar ataupun gagasan untuk mengembangkan suatu inovasi dalam bentuk tulisan.

Berawal dari latar belakang inilah, Sang Pengajar.Com , salah satu laman yang sangat peduli dengan dunia pendidikan, menghelat kegiatan yang bertajuk “Bedah Buku dan Workshop Penulisan Buku” bertempat di Red Chilies Hotel Solo, Minggu (1/7) ini. Kegiatan diikuti oleh 100 lebih peserta yang datang dari wilayah Jawa Tengah dan DIY. 

Tampil sebagai pembicara pertama adalah Agus Dwianto, guru SMP N 1 Paranggupito yang membedah bukunya “Guru Desa Membelah Angkasa”.

Di sesi kedua tampil Rusdi Mustapa, guru MAN 1 Surakarta, dengan bukunya “Mengajar Kreatif Bersama Guru Inovatif “. Mengapa guru harus kreatif dan Inovatif ? Menurut Rusdi, di era yang semakin maju seperti saat ini, guru dituntut harus selalu meng-upgrade kemampuan mengajarnya. Tidak bisa seorang guru tetap mempertahankan cara mengajarnya yang terbilang sudah konvensional. Kata kuncinya adalah Kreatif dan Inovatif.

Ketika siswa sudah sangat familiar dengan gadget, guru harus juga mengikuti perkembangan itu. Misalnya memanfaatkan gadget dalam pembelajaran. Di contohkan membuat QR Code ( barcode ) yang bisa di scan dengan android. Siswa bisa menggunakan android di bawah bimbingan guru. Misal lagi ketiga siswa kita sangat gandrung dengan komik, kenapa tidak guru mengadopsi kesenangan itu dengan cara membuat komik yang berisi materi pelajaran. Seperti yang telah dilakukan  yang mengampu pelajaran sejarah, memberikan tugas membuat “Komik Sejararah” sendiri menggunakan software Comic Life.

“Sebenarnya banyak software yang bisa dimanfaatkan guru dalam pembelajaran yang tentu saja akan menarik buat siswa. Misalnya software untuk membuat TTS (Teka-teki Silang) yaitu Crossword Maker atau juga memanfaatkan Zipgrade, yaitu software yang bisa untuk menscan Lembar Jawab soal ( semacam LJK namun menggunakan Android), ” urai Rusdi. Kreasi dan inovasi seperti inilah yang bisa dikenalkan kepada siswa dan tentu mereka akan lebih menarik.

Selain pemanfaatan TIK, Rusdi juga mengenalkan pembelajaran yang menggunakan model bermain. Kenapa bermain ? Menurut Rusdi, yang pernah menjadi Juara 2 Guru Teladan tingkat Jawa Tengah tahun 2017, sifat dasar seorang anak adalah bermain, maka tidak ada salahnya membawa sifat dasar itu dalam pembelajaran, tentu saja disesuaikan dengan tujuan pembelajaran. Misalnya mengadakan permainan “Pepes Teri” (Permainan Pesawat Berisi Materi), Lelang Soal, Ulangan Ular-ularan, Yel-yel sejarah, Who wants to be a teacher ? dan lain-lain.

Prinsipnya adalah bagaimana membuat siswa itu senang dan enjoy dengan pembelajaran yang dilakukan guru, maka selanjutnya mereka bisa diarahkan sesuai keinginan guru. Karena prinsipnya menyenangkan itulah belajar.

Ditemui secara terpisah, Kepala MAN 1 Surakarta, Slamet Budiyono menyatakan apresiasinya pada Rusdi Mustapa yang telah menjadi contoh bagi guru-guru lain untuk selalu update dengan teknologi sebagai media pembelajaran yang atraktif. Dimana guru di era sekarang dituntut harus kreatif dan inovatif.

“Saya secara pribadi dan institusi sangat bangga dengan pencapaian pak Rusdi, mampu mengembangkan kemampuan menulis sekaligus mampu memotivasi orang lain untuk juga menulis. Hal ini sejalan dengan program pemerintah yaitu Gerakan Literasi Sekolah, agar lingkungan madrasah semakin bergairah lagi dalam mengembangkan kegiatan tulis menulis.Maju terus, kreatif terus dan sukses terus dalam menginspirasi masyarakat pendidikan Indonesia,” kata Slamet Budiyono. (rma/Wul)