Kebangkitan Semangat Kaum Muda Dalam Hidup Menggereja dan Bernegara

Karanganyar – Kepala Kantor Kementerian Agama Kab. Karanganyar melalui Penyelenggara Katolik melaksanakan kegiatan pembinaan siswa katolik tingkat menengah pada Jumat dan Sabtu, Tanggal 1 dan 2 Oktober 2021 di Hotel Pondok Sari 1 Tawang Mangu, Karanganyar. Sebagai peserta adalah siswa – siswi Dari SMK Kanisius Bharata Karanganyar 40 Orang dan SMA Negeri Jumapolo 40 Orang.

 Acara dibuka oleh Kepala kantor Kementerian Agama Kabupaten Karanganyar, Wiharso.  Dalam sambutannya menyampaikan kaum muda sebagai generasi penerus bangsa hendaknya memahami  pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup supaya menjadi kaum muda yg berkarakter.

“Menjadi kaum muda seharusnya memiliki pandangan yang pluralis dengan mengedepankan moderasi beragama. Dewasa ini di media sosial sering kita jumpai pesan hoaks yang mengandung sara, konten negative yang tidak mendidik, sebagai generasi milinial yang faham akan makna Pancasila tentu akan mampu memilih dan memilahnya,” ujar Wiharso.

Narasumber pertama, Yohanes Budi Prasojo, S.S. dalam materinya  menekankan pada pembangunan spirit jiwa pancasila.

“Spirit jiwa Pancasila didalamnya mengandung ajaran nilai luhur baik sebagai manusia yang beragama maupun sebagai warga Gereja. Bertolak dari talenta yang diberikan Tuhan Kaum Muda diajak untuk mengembangkan diri untuk menjadi pribadi yang mandiri dan tangguh dalam menyongsong masa depan. Memiliki karakter yang baik, disiplin, jujur dan bermartabat menjadi sesuatu yang mutlak harus di miliki kaum muda sebagai modal dasar pembentukan jiwanya,” papar Yohanes Budi

Narasumber kedua yakni Romo Petrus Dwi Purnomo Adi, Pr. bersama romo Fransiskus Kristino Mari Asisi, SJ  Mencoba membakar semangat dengan menyentuh jiwa kaum muda, memotivasi untuk berani bereksplorasi dan memiliki jiwa yang kreatif supaya mampu menanggapi tantangan jaman yang semakin kompleks.

“Ekspresi bebas kaum muda harusnya diberi ruang supaya dapat mengekspresikan diri menurut versi mereka lalu diarahkan fokus pada apa yang hendak di capai,” ujar Romo Petrus.

Di sesi terakhir para siswa di ajak untuk membangun kekompakan dan kerjasama dalam team dengan dinamika kelompok, kemasan dari materi ini berupa game berkelompok. Maksud dari metode ini ingin menggugah kesadara kaum muda milenial yang cenderung egois, inklusif, dan tenggelam dalam dunianya sendiri diajak untuk bertoleransi, bekerjasama dengan orang lain sehingga jiwa sosialnya terbangun sehingga menjadi pribadi yang ramah, dan berpandangan luas. Pembinaan tersebut bertujuan untuk membangkitkan semangat kaum muda dalam hidup menggereja dan memiliki sikap cinta pada negara Indonesia.Sehingga para siswa katolik tingkat menengah mengalami perubahan perilaku menjadi pribadi yang baik, toleran, berwawasan luas, tangguh, dan memiliki rasa cinta pada negara sebagi orang beragama. (ida/sua)