Kegiatan Keagamaan Warnai Peringatan Hari Santri Di MTsN 2 Surakarta

Surakarta – Suasana peringatan Hari Santri Nasional di MTsN 2 Surakarta pada tahun ini berlangsung sangat meriah dan penuh suka cita. Berbeda dengan tahun sebelumnya, pada peringatan tahun ini madrasah mengadakan kegiatan sholat dhuha berjamaah, dzikir bersama, pengajian dan makan bersama. Empat kegiatan ini dirangkai menjadi satu untuk memeriahkan peringatan Hari Santri Nasional tahun ini.

Untuk memperingati Hari Santri Nasional ini, baik peserta didik maupun bapak ibu guru dianjurkan untuk mengenakan pakaian muslim serba putih. Warna putih identik dengan pakaian yang digunakan oleh para santri. Tak hanya dalam segi pakaian, peserta didik dan bapak ibu guru juga diminta untuk membawa nasi bungkus seharga 5 ribu untuk makan bersama.

Dalam sambutannya, Ali Badaruddin selaku wakil kepala madrasah bidang kesiswaan mengatakan bahwa tujuan dari peringatan hari santri ini adalah untuk mengenang jasa para santri yang ikut berjuang melawan penjajah demi Indonesia merdeka.

“Kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari perjuangan para santri. Sejarah membuktikan bahwa para santri mempunyai peran penting dalam berjuang merebut kemerdekaan negara Indonesia. Mereka yang berjuang antara lain KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Ahmad Dahlan,“ kata Ali.

Kegiatan yang dilaksanakan pada Senin, 22 Oktober 2018 tersebut bertempat di halaman madrasah. Sejak dari pukul 07.00 peserta didik dengan dibimbing bapak ibu guru diminta untuk mengumpulkan nasi bungkus yang sudah mereka bawa dari rumah. Nantinya nasi bungkus yang sudah mereka kumpulkan, akan saling ditukarkan dengan peserta didik lainnya.

Dengan beralaskan tikar sederhana, peserta didik, bapak ibu guru serta karyawan madrasah berbaur menjadi satu untuk mengerjakan sholat dhuha berjamaah. Imam sholat ialah Ustadz Agus Himawan yang sekaligus akan memimpin dzikir bersama serta penceramah di pengajian. Kegiatan keagamaan ini berlangsung dengan cukup khidmat.

Nasi yang dikumpulkan dari siswa dan pembina kembali dibagikan kembali secara acak  kepada peserta didik dan bapak ibu guru . Walaupun tidak mendapatkan nasi miliknya, tidak mengurangi semangat kebersamaan peserta didik dalam memeriahkan peringatan hari santri ini. “Makan bersama ini menunjukkan kesederhanaan dan kebersamaan diantara kita semua. Lauknya beda tidak apa-apa, yang penting kebersamaan dan ketaqwaan kita kepada Allah,” tutup Ali. (rma/bd)