Kegiatan Pasar Rakyat dan Praktik Perbankan Sederhana MTs SA An Naim Ajisoko Sukodono

Sragen – Zaman yang semakin berkembang saat ini, menuntut untuk lebih tanggap dalam beradaptasi dengan masyarakat sosial. Perkembangan ilmu teknologi, sosial bahkan ekonomi sangat menentukan kesejahteraan masyarakat terutama dalam pemenuhan kebutuhan hidup. Namun banyaknya jumlah pengangguran di Indonesia merupakan hambatan yang besar dalam memajukan perekonomian Indonesia. Selain itu, lapangan kerja yang tersedia masih minim.

Salah satu alternatif mengatasi masalah tersebut adalah dengan menanamkan jiwa wirausaha sejak dini. Modal utama dalam berwirausaha adalah kemauan dan keuletan untuk bersungguh-sungguh menjalankan suatu proses atau usaha. Dalam kegiatan berwirausaha, tidak hanya bermodalkan tekad yang kuat tapi lebih dari itu kompetensi, keterampilan, serta pengetahuan dalam mengelola suatu usaha juga sangat penting, sehingga kedua hal tersebut harus seimbang. Dengan menjadi seorang wirausaha kita dapat menuangkan ide-ide kita ke sesuatu yang lebih baik untuk memenuhi kebutuhan kita. Dan sebagai manfaat bagi kita sendiri, kita dapat menentukan patokan sendiri berapa keuntungan yang kita peroleh dalam usaha bisnis kita sendiri.

Untuk menanamkan jiwa dan semangat wirausaha sejak dini, MTs An Naim Ajisoko Sukodono sebagai salah satu madrasah dibawah naungan pesantren mengadakan Pasar Rakyat dan Praktek Perbankan Sederhana dengan mengusung tema “Menumbuhkan kreativitas Santri di Era Globalisasi” kepada siswa kelas VIII dan IX.

Tahapan pelaksanaannya yaitu diskusi kelompok yang dilaksanakan pada saat jam pelajaran IPS dengan pengampu Ernaningsih, SE selama 2 pertemuan yaitu: pada hari selasa, 31 Januari 2017 selama 90 menit dan membahas usaha yang akan dijalankan. Pertemuan kedua pada hari  rabu, 1 februari 2017 selama 90 menit membahas tentang rencana pelaksanaan kegiatan. Adapun praktek kegiatan ini dilaksanakan pada Hari Sabtu (11/02/2017) di lingkungan madrasah.

Produk yang dipasarkan pada kegiatan itu berupa keripik singkong , es campur, siomey goreng, onde onde, batagor, nasi goreng, agar agar waloh, dll. Dalam usaha yang di jalankan, menggunakan  teknik penentuan harga sebesar seribu rupiah. Alasan memilih teknik ini menurut Ernaningsih karena teknik ini yang paling efektif untuk dijalankan.

Adapun transaksi kegiatan menjual dan membeli menggunakan uang kertas yang telah dibuat oleh kelas IX yang mempunyai nilai nominal seribu rupiah. Sebelum membeli, pembeli harus terlebih dahulu menukarkan uang riil/asli mereka kepada bank terlebih dahulu agar dapat digunakan untuk transaksi di pasar rakyat. Setelah kegiatan pasar rakyat selesai, para penjual yang menerima uang kertas yang dibuat oleh kelas IX ditukarkan ke bank untuk menerima uang riil/asli agar dapat digunakan sebagai semestinya. Tetapi tiap penukaran uang kertas sebesar lima ribu rupiah dari bank, ada potongan sebesar seribu rupiah sebagai biaya administrasi atau pengganti biaya fotocopy uang kertas yang dikeluarkan oleh kelas IX.

Kepala MTs An Naim Ajisoko, Amil Amaludin menjelaskan ” Terimakasih kepada para guru dan siswa yang telah melaksanakan kegiatan pasar rakyat dan praktik perbankan sederhana ini semoga semakin menambah manfaat kepada seluruh civitas akademika madrasah”.

Sementara itu, Kasi Pendidikan Madrasah saat dimintai komentarnya (Selasa, 14/2) tentang kegiatan tersebut berujar, “Kegiatan ini sudah bagus hanya saja siswa baru dikenalkan dengan konsep perbankan konvensional”.

“Untuk waktu yang akan datang siswa juga harus dikenalkan dengan perbankan syariah ” imbuhnya(amil/wul).