Kemandirian Jamaah haji Akan Memberi Kekhusyu’an Beribadah

Wonogiri – Setiap calon jamaah haji di harapkan bisa menjadi jamaah haji yang mandiri, artinya kemandirian bukan hanya dalam urusan manasik dan pelaksanaan ibadah haji saja, tapi juga mandiri dalam urusan perjalanan haji dan kegiatan lainnya.

Jamaah haji yang mampu mandiri, akan memberi kekhusyu’an beribadah. Kemandirian yang tentunya didasarkan oleh ilmu. Artinya, kemandirian lahir karena memahami ilmu untuk berhaji, hingga saat melaksanan haji tak banyak lagi merepotkan orang-orang sekitar, dan jamaah pun bisa fokus beribadah mencapai haji mabrur. Sehingga pembinaan dan simulasi manasik haji atau tata cara berhaji berguna untuk memberikan gambaran untuk memudahkan pelaksanaan ibadah di Tanah Suci Mekkah nanti.

Hal tersebut di tegaskan Kepala kankemenag Wonogiri, Subadi ketika membuka sekaligus menyampaikan materi kebijakan Kementerian Agama dalam penyelenggaraan haji dan umroh dalam acara Manasik Haji tahun 1439 H/ 2018 M KUA Kec. Wonogiri, Sabtu (30/06) di Wisma Dekopin lt. 2 yang di ikuti 85 calhaj.

Kegiatan manasik perlu bagi calon haji untuk mempelajari dan menguasai pengetahuan yang harus dipatuhi oleh para calon haji seperti tempat tinggal sementara, mobilitas selama di Tanah Suci, dan apa yang harus dilakukan oleh setiap calon haji mulai dari soal pakaian, sampai masalah kesehatan.

“Manasik haji menjadi salah satu rangkaian penting dalam penyelenggaraan ibadah haji. Melalui manasik, jemaah calon haji (JCH) mendapat pemahaman, teori, dan praktik terkait tata cara beribadah haji,” jelas Subadi.

Hal-hal ini yang menjadi alasan mengapa setiap menjelang keberangkatan jamaah untuk menunaikan ibadah haji, selalu diberi pembekalan dan pembinaan baik jasmani maupun rohani.

“Gambaran situasi dan kondisi pada saat tawaf, sai, wukuf, dengan mengeliling ka’bah dan melempar jumrah ini penting diketahui calon haji, untuk memperlancar jalannya ibadah ketika berada di tanah suci nantinya,” pungkas Kepala Kankemenag. (mursyid-Heri/Wul)