Kembangkan Enam Pilar Pendidikan di Madrasah

Rembang — Madrasah yang kini sudah menjadi lembaga pendidikan favorit di beberapa daerah, harus terus berupaya melakukan perubahan-perubahan. Upaya tersebut untuk menjawab tantangan era keterbukaan informasi, era keterbukaan pasar, dan berbagai hal yang sudah berkembang dengan pesat.

Demikian ditandaskan oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah, Ahmadi, ketika memberikan pembinaan pada acara pelepasan siswa kelas XII MAN Lasem, Rabu (04/05).

Kendati demikian, kata Ahmadi, madrasah pula harus mempertahankan, bahkan memperdalam kajian keagamaan. Satu kesatuan ini, terangkum dalam enam pilar pendidikan yang harus dikembangkan oleh madrasah.

Enam pilar tersebut pertama adalah keislaman. Pilar ini merupakan ciri khas madrasah yang sudah mengembangkan ilmu-ilmu Islam sejak kali pertama, sehingga harus tetap dipertahankan, bahkan ditingkatkan sebagai benteng degradasi moral. Kedua yaitu ilmu pengetahuan. Madrasah tidak boleh tertinggal dari sekolah umum yang sudah mengembangkan science, bahkan sudah berkiprah di dunia internasional.

Ketiga yaitu ke-Indonesia-an. Madrasah harus menjadi garda terdepan untuk mempertahankan NKRI dan mencegah siswa terpengaruh faham-faham yang ingin memecah belah NKRI. Keempat yaitu ke-modern-an. Madrasah harus segera melakukan inovasi-inovasi untuk menghadapi berbagai fenomena yang kian modern ini. “Guna menyambut masa depan, madrasah harus mampu berinovasi, memberikan banyak warna tidak hanya di bidang agama, namun ilmu pengetahuan, ketrampilan, riset, dan lain sebagainya,” urai Ahmadi.

Kedua terakhir yaitu kemandirian dan keummatan. Madrasah mempunyai tanggung jawab untuk membentuk siswa yang berkarakter, mandiri, bertanggung jawab, mampu beradaptasi dengan lingkungan masa kini, dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan keummatan, Ahmadi menandaskan, madrasah lahir dari ummat. Sehingga madrasah harus mampu memenuhi kebutuhan dan keinginan masyarakat untuk membentuk putra-putrinya yang sukses, yang siap menghadapi masa depan.

Ahmadi juga menekankan pentingnya kemampuan literasi atau membaca kepada siswa. Sebab, perkembangan media sosial yang kian pesat, sedikit banyak mengikis minat siswa untuk membaca.

Kemampuan literasi ini salah satunya adalah menyenangi membaca Al-qur’an. Ahmadi menyatakan apresiasi kepada MAN Lasem, karena membuka program baru, yaitu program tahfidz Al-qur’an.

Pada akhir acara, dilakukan uji kompetensi tahfidz Al-qur’an. Sejumlah 30 siswi secara langsung diminta untuk melanjutkan ayat Al-qur’an di hadapan pejabat Kemenag dan wali siswa. Kakanwil pun turut menguji salah satu siswi tersebut.

Kepala MAN Lasem, Shofi mengatakan, program tahfidz ini sudah setahun dibuka. Peminatnya cukup banyak. Bekerjasama dengan salah satu pondok pesantren di Lasem, siswa-siswi tahfidz ini mendapat bimbingan secara intens oleh pengasuh pesantren. Harapannya, peminat tahun ajaran baru akan semakin banyak.—(Shofatus Shodiqoh/gt)