Kemenag Bantu Sembako untuk Panti Asuhan dan Ponpes

Wonogiri – Sejarah mencatat bahwa pondok pesantren memiliki peran vital dan strategis dalam menyesukseskan pembangunan nasional. Bukan hanya itu, dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaanpun, madrasah dan pondok pesantren, melalui kyai dan santrinya memegang andil yang sangat besar.

Dalam gerusan globalisasi, pondok pesantren tetap eksis dan konsisten menyuguhkan sistem pendidikan yang komprehenshif antara kekuatan fisik (jasmani) dan kebutuhan mental spiritual (rohani). Sehingga output pesantren adalah terbentuk manusia yang sholeh dan cerdas pemikirannya.

Untuk itu hanya sedikit kontribusi untuk pondok pesantren dan panti asuhan di lakukan keluarga besar Kankemenag Wonogiri, melalui Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Kankemenag Kabupaten Wonogiri tahun 2016 kembali menyalurkan bantuan berupa sembako untuk Pondok Pesantren dan panti Asuhan di wilayah Kabupaten Wonogiri yang di ujudkan dalam bentuk beras, minyak goreng, gula, teh dan mie. Dana UPZ juga disalurkan dalam bentuk beasiswa siswa miskin, bantuan penyelenggara wajar dikdas, bantuan Madin dan insentif bagi guru wiyata bakti.

Penyerahan bantuan dilakukan, Rabu – Kamis (13-14/04) di 2 Panti Asuhan 8 Pondok Pesantren di wilayah Kabupaten Wonogiri oleh Gara Syariah, Fauzi Rohman Jauhari kepada Pengurus panti dan pengasuh ponpes.

Menurut Fauzi penyaluran bantuan merupakan bentuk kepedulian dan apresiasi keluarga besar Kankemenag Wonogiri terhadap pondok pesantren telah terbukti memainkan peran sekaligus memberikan kontribusi penting dalam mencerdaskan kehidupan umat Islam, lembaga yang menjaga dan menyiapkan santrinya kuat iman dan akhlaknya.

Sedangkan menurut Plt. Kepala Kankemenag, Masdiro mengatakan bahwa Pondok Pesantren secara empiris dan riil telah mampu berkontribusi kepada negara lewat tafaquhfiddinnya, namun kedepan ponpes harus mampu berkompetisi dalam berbagai aspek baik bidang seni maupun olahraga.

Hadapi Tiga Persoalan Umat

Peran pondok pesantren dalam rangka rangka menangkal persoalan dan penyakit masyarakat harus di tingkatkan apalagi selaras dengan gerakan revolusi mental yang telah di canangkan pemerintah, minimal ada 3 persoalan umat yang harus di hadapi pondok pesantren yaitu :

Kesatu, Permasalahan radikalisme atas nama agama. Problem ini telah nyata di tangkal oleh ponpes, mengingat Islam yang akan dikembangkan di Indonesia melalui pondok pesantren adalah paham Islam yang moderat. Ini adalah sesuatu yang sangat penting dalam konteks keIndonesia-an dan NKRI.

Kedua, LGBT. Fenomena Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) yang saat ini sedang mengemuka, Ponpes harus melakukan penajaman pendidikan moral dan agama kepada santri maupun dakwah kepada masyarakat.

Ketiga, Narkoba. Selama ini Ponpes sudah menjadi rujukan dan panti rehabilitasi bagi pengguna narkoba. Sehingga dengan itu dapat dimaksimalkan dari sisi pembinaan dan rehabilitasi. Dengan metode terapi spiritual, bahkan ponpes kini menjadi rujukan untuk rehabilitasi pengguna narkoba di Indonesia.

Adapun yang mendapatkan bantuan untuk Panti Asuhan yaitu PAY Putri Aisyiyah Wonogiri dan LKSA Tirtonugroho Tirtomoyo sedangan pondok pesantren yang mendapatkan bantuan antara lain : Ponpes Mambaul Hikmah (Selogiri), Ponpes Al Ibanah (Purwantoro), Ponpes Darul Hikmah (Purwantoro), Ponpes Al Ibanah (Purwantoro), Ponpes Sunan Gunung Jati (Kismantoro), Ponpes Al Amanah (Jatisrono), Ponpes Al Amin (Tirtomoyo) dan Ponpes Miftahul Huda (Tirtomoyo). (Mursyid ___ Heri/gt)