Kemenag Terjunkan Penyuluh Wanita untuk Bimbing Warga Binaan Wanita

Wonogiri – Stigma narapidana terdengar sangat ngeri dan menakutkan di masyarakat bahkan dianggap sampah masyarakat yang tidak layak untuk hidup berdampingan dengan masyarakat umum lainnya, namun sebenarnya mereka bisa menjadi manusia yang berdaya guna dan membawa manfaat bagi orang lain, keluarga, maupun terhadap dirinya sendiri asalkan mereka di bimbing dan di bina dengan baik.

Dari sekian ratus orang yang menjadi narapidana di rumah tahanan (rutan) di Wonogiri adalah kaum hawa (wanita) yang mestinya sangat butuh interaksi atau sentuhan spiritual yang lebih halus, dan mudah masuk dalam hati mereka.

Melihat kondisi tersebut Seksi Bimbingan Masyarakat Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wonogiri merasa terpanggil untuk ikut serta membina warga binaan rutan kelas IIb Wonogiri dengan memberdayakan Penyuluh  Agama Islam wanita khusus untuk mengadakan pembinaan keagamaan bagi warga binaan wanita pada rutan tersebut.

Menurut Kasi Bimas Islam Hidayat Maskur, Kamis (01/03) mengatakan bahwa program tersebut sebagai pelaksanaan Nota Kesepahaman antara Ka. Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Tengah dan Ka. Kanwil Kementerian Hukum dan HAM Provinsi Jawa Tengah Nomor : 1270/kw.11.3/PP.00.7/01/2018 dan W13.Dl.03.04-56 Tahun 2018 tanggal 24 Januari 2018.

Adapun tujuan utama program tersebut adalah untuk meningkatkan mental warga binaan pemasyarakatan khususnya wanita sebagai salah satu upaya menwujudkan manusia yang insyaf dan bertobat secara totalitas, dan tidak mengulangi kesalahan yang telah ia perbuat sehingga ia masuk dalam penjara.

Dalam membina mental dan kepribadian para warga binaan wanita pemasyarakatan di Rutan Kelas IIb Wonogiri para penyuluh agama Islam wanita dari Kantor Kemenag secara pendekatan kodrati melakukan pembinaan mental secara rutin setiap hari Kamis baik tausiyah, dzikir mujahadah maupun belajar Baca Tulis Al Qur’an (BTA).

Penyuluh Agama Islam wanita yang di terjunkan menurut hidayat, mereka secara psikologi lebih mudah dekat dengan napi-napi wanita. Selain itu sebagai penyuluh mereka mempunyai fungsi informatif dan edukatif yaitu memposisikan sebagai da’i yang berkewajiban menda’wahkan Islam, menyampaikan penerangan agama dan mendidik masyarakat dengan sebaik-baiknya sesuai ajaran agama.

“Semoga peran institusi Kankemenag bisa dirasakan kontribusinya dalam membangun mental spiritual umat serta menjadi perekat ukhuwah, termasuk bagi napi wanita di rumah tahanan,” tegas Hidayat. (Mursyid_ Heri/gt)