Kemenag Wonosobo Gandeng Balai Diklat Keagamaan Semarang Gelar Rakor Kepala Madrasah

Wonosobo – Guna melakukan sinkronisasi dan penyamaan presepsi dalam kancah pendidikan Madrasah, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wonosobo bekerja sama dengan Diklat Keagamaan Semarang serta KKM Kabupaten Wonosobo. Gelar Rakor Diklat Teknis Substantif Peningkatan Kompetensi Kepala Madrasah, yang di gelar di rumah makan Sari Rasa selama 5 hari berturut-turut, yang di mulai sejak tangal 1 Agustus hingga 5 Agustus kemarin, Senin (14/8).

Adapun peserta rakor, yakni di ikuti oleh seluruh Kepala Madrasah baik di jenjang MI, MTs, hingga MA yang ada di wilayah Kerja Kemenag Wonosobo. Dihadiri langsung oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wonosobo, jajaran Seksi Dikmad Kemenag dan Balai Diklat Semarang.

Menurut, M. Thobiq, selaku kepala Kantor Kemenag Wonosobo, dalam kesempatan tersebut pihaknya yang juga bertindak sebagai pemateri menegaskan, kebijakan Kemenag Kabupaten Wonosobo menuju Kepala Madrasah Profesional juga harus berbanding lurus dengan kebijakan dari Kementerian Agama Republik Indonesia.

“Negeri yang makmur bukan hanya dari tanahnya, tapi dari kualitas penduduknya. Kualitas penduduk tidak akan menjadi lebih baik jika tidak ada kebijakan pemerintah untuk membenahi sistem pendidikannya. Sekolah, tidak akan menjadi sekolah baik jika hanya di lihat dari gedungnya tapi tidak pada metode pengajarannnya. Sebaik-baiknya kurikulum, tidak akan efektif jika yang mempraktekannya atau sumber distribusi ilmu tidak bisa mendistribusikan ilmu yang ia pelajari ke anak didiknya. Artinya, untuk menuju Kepala Madrasah dan Madrasah Profesional, secara formalitas kita membutuhkan wadah yang sudah dinaungi oleh Kemenag, kemudian kita selaraskan dengan kebijakan Kemenag Pusat, selanjutnya kita perbaiki diri dengan mengupgrade berbagai macam metode, untuk mengaplikasikan kurikulum yang sudah di sepakati,“ ungkapnya.

Pihaknya juga menyinggung, tantangan Madrasah di era digital adalah bagaimana mengembalikan lagi Anak-anak yang sudah mulai ketergantungan dengan gadget.

“Kalau dulu kita kesusahan cari buku sebagai referensi ilmu, karena berbagai faktor. Tantangan saat ini adalah kita akan lebih kesusahan untuk menghadapi “kids jaman now” yang ada di era milenial, yang lebih gemar atau lebih candu terhadap gadget nya dari pada buku. Tentu kita juga harus memikirkan metode apa yang pas untuk menghadapi era digital ini, agar efektif di terapkan kepada Madrasah,“ tambahnya. 

Selain itu, pihaknya juga menambahkan, meskipun terjadi upgrading kepada sistem pendidikan Madrasah, karakter Madrasah harus lebih religius dari pada sekolah umum lainnya. (PS-WS/Sua)