Ketua FKUB Kabupaten Wonogiri, H. Sutopo Broto mengikuti Pembinaan Manajemen Konflik Dan Jurnalisme Damai Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah Tahun 2021

Ketua FKUB Wonogiri Ikuti Pembinaan Manajemen Konflik dan Jurnalisme Damai

Wonogiri – Tim Pengendali KUB Kankemenag Wonogiri, H. Mursidi dan Ketua FKUB Kabupaten Wonogiri, H. Sutopo Broto mengikuti Pembinaan Manajemen Konflik dan Jurnalisme Damai Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah Tahun 2021 yang diinisiasi Subbag Ortala dan KUB Kanwil Kemenag Prov Jateng dilaksanakan hari ini Senin, (15/11) di Hotel Grasia Semarang.

Acara dibuka Kakanwil Kemenag Prov Jateng yang diwakili Kabag TU, Fajar Adhy Nugroho dihadiri Perwakilan Kesbangpol Prov. Jateng perwakilan BIN, Perwakilan Koran Sindo, Ketua FKUB Prov Jateng, perwakilan satker Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jateng, perwakilan Kankemenag Kab/Ko, para Tokoh Agama, serta seluruh jajaran FKUB se Jateng.

Adapun tujuan dilaksanakan pembinaan Manajemen Konflik dan Jurnalisme Damai ini untuk melaksanakan upaya pencegahan potensi konflik dan peningkatan pengetahuan pemberitaan media saat ini hal ini yg disampaikan Kasubbag Ortala dan KUB, Nurkholis dalam menyampaikan laporannya.

“Media merupakan salah satu alat dalam proses komunikasi massa yang mampu menjangkau khalayak yang luas yang secara tidak langsung mampu mempengaruhi opini publik,” kata Nurkholis.

Kankanwil Kemenag Prov Jateng yang dalam hal ini diwakili Kabag TU, Fajar Adhy Nugroho dalam membuka acara menyampaikan ucapan selamat datang kepada peserta yang hadir sekaligus mengucapkan syukur atas terselenggaranya forum silaturahmi ini.

“Mudah-mudahan dengan terselenggaranya forum silaturahmi ini, bisa membuat kebijakan-kebijakan dan merumuskan kebijakan terkait dengan manajemen konflik dan Jurnalistik damai di Prov. Jawa Tengah,” kata Fajar.

“Dan juga untuk bersama- sama bersinergi membangun kerukunan beragama baik melalui para tokoh lintas agama dan juga jurnalistik,” tambahnya.

Karena masyarakat kita adalah masyarakat yang majemuk, lanjut Fajar. Terdiri dari suku bangsa, ras, agama, adat istiadat tentu akan sangat rentan muncul persoalan- persoalan dan gesekan-gesekan melalui informasi yang sangat cepat baik informasi yang positif maupun negatif.

“Kita harus bijak, kita harus banyak mempunyai narasi, mempunyai referensi yang kuat baik menguatkan secara pribadi maupun kelompok agama, serta dalam bersosial masyarakat,” ungkapnya.

Selanjutnya Fajar mengajak kepada peserta yang hadir untuk bersama-sama mengamankan Provinsi Jawa Tengah menjadi Lingkungan yang kondusif. “Setiap persoalan ada dimasyarakat diselesaikan dengan kekeluargaan, tidak sampai mencuat menjadi persoalan provinsi maupun nasional,” tuturnya.(Mursyid/Sua)