Ketua MUI Beri Solusi Atasi Persoalan Keagamaan

Tegal – Sebanyak 30 peserta hadiri acara halal bi halal yang dimotori oleh FKUB Kota Tegal dalam rangka membahas persoalan Aktual Keagamaan yang timbul akhir-akhir ini, Kamis (06/07) di Aula Kantor Kementerian Agama Kota Tegal.

Hadir dalam acara tersebut, KakanKemenag Kota Tegal, Kasi Bimas,Ketua MUI, Ketua FKUB beserta anggotanya, Kesbangpolinmas, Kominda, Kodim, Pimpinan Cabang Muhammadiyah, PC NU, dan perwakilan dari majelis Keagamaan Kota Tegal diantaranya dari Majelis agama Budha, Hindu, Gereja Katolik dan pengurus Rotibayn Kota Tegal.

Dalam acara halal bi halal tersebut sekaligus membahas tentang persoalan keagamaan yang mungkin terjadi khususnya di kota tegal, maka dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Tegal, Abu Chaer Annur dalam sambutanya menyampaikan beberapa solusi untuk mengatasi persoalan –persoalan yang ada.

Solusi pertama, jika terjadi persoalan antar agama di masyarakat maka secepatnya diadakan pendekatan dengan cara dialog dari masing-masing pengurus keagamaan sebelum permasalahan menjalar sampai ketingkat bawah, “ujar Abu Chaer Annur.

Kedua, jangan mencampur adukan antara kegiatan sosial dengan ritual keagamaan, seperti kegiatan dalam acara peduli anak-anak yatim dengan membagi-bagi bingkisan serta bantuan uang yang dilakukan oleh panitia yang notabene agamanya berbeda dan kegiatan tersebut ternyata melewati waktu sholat, kemudian saat itu juga panitia mempersilahkan menjalankan ritual keagaman seperti sholat ditempat tersebut, maka secara otomatis akan timbul permasalahan di masyarakat.

Ketiga, kita hendaknya selalu membangun tarbiyah rubbubiyah yang kita peroleh dari pelajaran ramadhan 1438 H tahun ini, yaitu dengan mengendalikan nafsu kita supaya dapat terkontrol kedepan, pembersihan jiwa supaya hati kita bersih dari noda dan maksiat untuk menuju ketaataan pada sang kuasa, yaitu Allah SWT serta dapat menyikapi permasalahan apapun dengan pendewasaan ego, “tegas Abu Chaer Annur.

Oleh karena itu, kepada semua pihak terutama yang hadir pada saat itu, pasca Ramadhan 1438 H kita hendaknya kembali fitri, tanpa memandang perbedaan ras, suku maupun agama, “tutup Abu Chaer Annur. (IM/rf)