KKG MI Kota Surakarta, Mantapkan Moderasi Beragama

Surakarta – Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Surakarta menyampaikan materi Moderasi Beragama pada kesempatan Pelatihan Kelompok Kerja Guru Madrasah Ibtidaiyah Kota Surakarta (2/11). Dalam penyelenggaraan acara ini, hadir 118 guru dari 5 KKG. Acara ini dibuka langsung oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Surakarta, Hidayat Maskur. Tujuan diselenggarakannya pelatihan ini adalah meningkatkan kualitas guru MI dalam mengikuti kebutuhan zaman sekaligus mempertegas moderasi beragama.

Hidayat Maskur menyampaikan bahwa orang yang moderat adalah orang yang bisa mendudukkan dirinya di antara 2 atau lebih perbedaan. “Semua moderasi beragama adalah semua yang berikatan dengan kehidupan bersama, maka setiap orang tidak dapat mengatakan pendapatnya paling benar, setiap orang memiliki persepsi yang berbeda dan kita harus menghargai itu,” tuturnya. Hidayat menambahkan ada 4 ciri orang yang moderat adalah orang yang toleransi, berarti saling menghargai karena dasar kemanusian. Menjaga toleransi adalah sama dengan menjaga hati orang lain. Ciri kedua adalah komitmen kebangsaan. Indonesia bukan negera agama, juga bukan negara yang sekuler. Ini mengartikan bahwa orang Indonesia harus memiliki rasa komitmen kebangsaan karena hidup dalam keberagaman.

Ciri ketiga adalah menerima kearifan lokal yang juga akan menciptakan rasa toleransi antara tradisi dan budaya. Ciri keempat atau yang terakhir adalah anti kekerasan. Hidup dalam keberagaman dan perbedaan menjadi potensi untuk bertindak kekerasan. Namun, menjadi orang yang moderat adalah orang yang anti kekerasan terhadap adanya perbedaan. Hidayat mengingatkan , “Dengan adanya pelatihan ini, kami mempunyai harapan besar kepada para guru untuk tidak menyerah dalam belajar dan mencari ilmu, mengikuti berbagai diklat, dan sebagainya. Sehingga, nantinya akan semakin banyak menyebarkan manfaat kepada anak didiknya,”imbuhnya.

Nur Rhosidah, ketua KKG MI Kota Surakarta, “Pentingnya penyampaian materi mengenai moderasi beragama ini diakibatkan banyaknya keadaan yang terjadi di masyarakat, dimana suatu konteks atau pernyataan akan berpotensi menjadi berbagai pemikiran, dan setiap pemikiran individu satu dengan lain yang lain pasti berbeda,”tuturnya. Materi ini disampaikan untuk mempertegas dan meminimalisir miscommunication mengenai moderasi beragama. Beliau juga mengajak para guru untuk bersama-sama membangun persatuan tanpa mencederai orang lain. (nd/my/bd)