Kompetensi Bidang Tugas Harus Selalu Ditingkatkan

Temanggung – Seksi Bimas Islam pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Temanggung menggelar kegiatan Pembinaan Penyuluh Agama Islam Non PNS Tahap II dan Tahap III pada Kamis (03/05) di Aula Kantor Kementerian Agama Kabupaten Temanggung selama satu hari.

Ahmad Minanurrohman selaku Ketua Panitia melaporkan bahwa Kegiatan Pembinaan Penyuluh Agama Islam tersebut mengambil tema “Peningkatan Kompetensi Penyuluh Agama Islam Kabupaten Temanggung”.  Kegiatan ini sebagai kelanjutan dari Pembinaan tahap I yang telah dilaksanakan pada bulan Februari 2018 bertempat di Rumah Makan Omah Kebon Temanggung dengan peserta 60 orang. Sedangkan  untuk kegiatan pembinaan pada hari ini, dilaksanakan dua kelas yaitu tahap II dan tahap III masing- masing  50 orang.

Dalam sambutannya Plt. Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Temanggung, Yusuf Purwanto  menjelaskan bahwa ahlaq Penyuluh Agama antara lain : ikhlas, ramah, lemah lembut, rendah hati (tawadlu'), menjadi suri tauladan, menjaga diri dari maksiat dan memiliki sifat-sifat Nabi (siddiq, amanah, tabligh, Fatonah).

Kompetensi bidang tugas, harus selalu ditingkatkan sejalan dengan perubahan dan perkembangan zaman. Peningkatan kompetensi diharapkan dapat memunculkan inovasi dalam pelaksanaan tugas sebagaimana tercantum dalam budaya kerja Kementerian Agama, urainya.

Lebih lanjut  Yusuf Purwanto menekankan, bahwa kepada Penyuluh Agama Kantor Kementerian Agama Kabupaten Temanggung untuk melaksanakan tupoksi masing-masing secara profesional sebagai pelayan masyarakat.

Pembinaan penyuluh selanjutnya diberikan oleh Kasi Bimas Islam, Ahmad Sugijarto, SH, MM tentang E-PAI dan tupoksi penyuluh.

Dalam materinya, Sugijarto menyampaikan tujuan dari kegiatan itu untuk memberikan pemahaman terkait fungsi dan tugas pokok peserta selaku Penyuluh Agama Islam.

“Yang terpenting dari kegiatan ini, kita ingin agar para Penyuluh Agama Islam bisa mengetahui dan memahami betul metode dakwah agar penyampaiannya bisa diserap baik oleh masyarakat,” katanya.

Lebih lanjut, Ahmad Sugijarto menambahkan, selain metode atau pesan dakwah, para penyuluh juga diajarkan agar mengikuti perkembangan modern yang ada.

“Maksudnya, penyampaian pesan dakwah itu tidak hanya lewat mimbar namun juga lewat teknologi seperti Facebook, WhattApp dan lainnya juga bisa dimanfaatkan oleh Penyuluh Agama Islam untuk tetap bersyi'ar,” ujarnya.

Ahmad Sugijarto berharap, dengan adanya pembinaan tersebut para Penyuluh Agama Islam dapat menyikapi tantangan yang tersebar di masyarakat dengan cara senantiasa menitip pesan-pesan agama, pungkasnya.(sr/rf)