Kunjungan Studi Banding Perpustakaan MAN 1 Tegal ke Perpustakaan Juara 2 Nasional (Perpustakaan Baitul Hikmah MAN 2 Wonosobo)

Tegal (Slawi) – Studi banding adalah proses menggali ilmu khusus tentang kelebihan tempat lain. Hasil studi banding adalah informasi-informasi penting yang bisa digali di lingkungan yang dikunjungi dan harus membawa hasil konkret yang menggembirakan sekaligus menghasilkan progress report yang bisa dijadikan data pembanding di tempat instansi sekolah masing-masing.

Studi banding diselaraskan dengan kondisi riil di tempat yang di kunjungi dengan lingkungan sekolah sendiri kemudian ditambahkan dengan perencanaan-perencanaan matang tentang apa dan bagaimana program sekolah ke depan yang akan dijalankan. Kegiatan ini harus menjadi proses penggalian yang utuh, komprehensif, holistik dan tindakan nyata.

MAN 1 Tegal melakukan kunjungan studi banding ke MAN 2 Wonosobo Rabu (17/10). Rombongan yang berjumlah 20 orang, terdiri dari unsur guru, pustakawan, pegawai dan komite ini tiba di MAN 2 Wonosobo pukul 10.30 WIB dan disambut hangat oleh segenap civitas akademika MAN 2 Wonosobo.

Kepala MAN 2 Wonosobo, Muslikh, dalam sambutannya ia menuturkan “Dengan rasa bahagia dan senang sekali atas silaturahminya saudara kita dari MAN 1 Tegal, saya mengucapkan selamat datang, sugeng rawuh di MAN 2 Wonosobo mudah-mudahan ke-rawuh-an panjenengan sedoyo teman-teman dari MAN 1 Tegal membawa barokah dan yang jelas menjadi amal ibadah, amal sholeh di hadapan Allah SWT. Dan memang seharusnya antarMAN harus seperti ini, harus saling berkunjung, tapi kadang-kadang faktor x yang membuat kita tidak saling berkunjung”.

“Apa yang kami capai ini betul-betul anugerah Illahi, pemberian Allah SWT, karena jangka waktu yang tidak sampai 1 tahun kami harus bisa mewujudkan salah satu tempat yang panjenengan lenggahi sekarang”, tambahnya.

Beliau juga menjelaskan ,”Kebetulan pas saya masuk kesini ada lomba yang diikuti, yaitu lomba perpustakaan tingkat Kabupaten Wonosobo, dan alhamdulillah MAN 2 Wonosobo menjadi juara 1 di Kabupaten Wonosobo, dan tinggal maju ke tingkat Provinsi Jawa Tengah, dengan maju ke tingkat provinsi perpustakaan kami belum banyak berubah, karena saya studi banding ke Purbalingga yang juara provinsi, “kok seperti itu juara provinsi yah?, bisa-bisanya perpustakaan seperti ini juara provinsi?, wah kalau begiti saya bisa, teman-teman saya kumpulkan, kita tata sana-sini, berubah sedikit hanya tambah kegiatan dan ternyata dalam ikut lomba perpustakaan tingkat Provinsi Jawa Tengah, meskipun ada beberapa juri yang ragu, ‘maaf kalau MAN memang sering diragukan’ dan satu-satunya MAN yang ikut lomba perpustakaan tingkat provinsi dan alhamdulillah kita diumumkan menjadi Juara 1, kita mulai diajak oleh perpusda studi banding ke perpustakaan SMAN 1 Bantul yang menjadi juara 1 Nasional. Kami sepakat ada semangat, ada satu tujuan, satu tekad yang kuat kita kumpulkan, hari liburpun kita masuk untuk mendengarkan seorang ahli perpustakaan dari Yogyakarta yang sengaja saya undang. Pengadaan buku-buku perpustakaan MAN 2 Wonosobo dengan cara minta bantuan yang pertama ke Kantor Kemenag, PNS di Kankemenag diminta infak buku yang sudah selesai dibaca, bapak/ibu guru disini juga ada yang menyumbang 20 buku, buku-buku pada waktu kuliah yang sudah tidak terpakai silahkan disumbangkan, ASN di Pemda juga ikut menyumbangkan buku, dan alumni yang paling banyak menyumbang buku itu kami terima, buku akhirnya terpenuhi karena minimal harus ada 10.000 judul buku non buku paket, setelah itu kita mulai kerja keras cat kita ganti, akhirnya bisa terwujud seperti ini, luar biasa bukan hanya perjuangan tapi butuh yang namanya pengorbanan”.

“Kalau momen-momen seperti itu, maaf saya termasuk orang yang senang  bersaing dengan SMA, saya sejak menjadi Kepala MAN di Purbalingga saya ingin MAN jangan hanya dikatakan sekolah pinggiran, sekolah yang tidak bisa bersaing”, tambahnya.

Ketua rombongan yang sekaligus Kepala MAN 1 Tegal, Nurhayati, mengatakan,”Saya ingin mencari tahu apa sih sesungguhnya yang spektakuler di MAN 2 Wonosobo sehingga perpustakaannya menjadi juara 2 tingkat nasional, buat saya bukan juara 2, buat saya itu juara 1 karena di madrasahnya itu”.

“Sesungguhnya kalau kami pak, nyuwun sewu tidak muluk-muluk untuk menjadi juara, sederhana saja, saya datang kesini untuk mulang kawruh dengan tujuan agar siswa saya itu betah di perpustakaan, karena selama ini nyuwun sewu momok buat siswa itu adalah perpustakaan, bagaimana saya ingin membawa siswa saya itu pertama betah di perpustakaan bukan dalam artian betah itu nongkrong-nongkrong tapi betah di perustakaan untuk membaca, tentunya agar siswa betah membaca itu harus diberi fasilitas dan saya yakin MAN 2 Wonosobo itu karena sudah menjadi juara 1 buat saya di tingkat madrasah itu sudah mendisain baik sarana prasarana maupun lingkungan yang bisa membuat siswanya itu betah di perpustakaan, kemudian saya juga membawa tim komite karena tadi apa yang disampaikan Pa H. Muslikh, bahwa komite itu jangan dipandang sebelah mata karena beliaulah yang memiliki uang sehingga mau bisa seperti ini itu harus menggunakan uang”, tambahnya.

Kepala Perpustakan Baitul Hikmah MAN 2 Wonosobo, Yusuf Hardiyono, menjelaskan tentang sekilas profil perpustakaan Baitul hikmah MAN 2 Wonosobo diantaranya fasilitas-fasilitas, sejarah, dan ruang/bagian-bagian perpustakaan Baitul Hikmah MAN 2 Wonosobo.

Di akhir acara dilanjutkan dengan visitasi ke perpustakaan Baitul Hikmah MAN 2 Wonosobo dengan melihat fasilitas-fasilitas yang ada. (sochud/rf)