Langkah Antisipasi Menghadapi Kenakalan Siswa Di Zaman Milenial

Surakarta – Adanya revolusi industri dan perubahan pada tantangan era digitalisasi sekarang ini, perlu disiapkan sedini mungkin  untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, terutama perilaku anak-anak yang perlu pendampingan cukup ekstra.

Menghadapi hal yang demikian itu, Guru diajak untuk bersikap positip dalam menghadapi era digital ini. Para pendidik / guru harus belajar dan menguasai teknologi tersebut dan bisa bergumul dengan anak didiknya, supaya kebutuhan murid terjawab. Demikian disampaikan Romo D. Bambang Sutrisno, Pr. di Rumah Sepuh Pring Wulung Yogyakarta,  Sabtu (13/10).

Dengan demikian, para guru diajak untuk berupaya mendampingi para siswa di jaman milenial ini. Untuk itu, Kelompok Kerja Guru (KKG) Pendidikan Agama Katolik Kota Surakarta tingkat SD mengadakan kegiatan workshop sehari bersama Pastur-pastur sepuh, yang pernah berkarya di paroki (Gereja)dengan mengambil tema ” Ketika tubuhmu masih kuat, layanilah sesamamu dengan sepenuh hati ”.

Pada kegiatan tersebut para guru berkunjung dan bertatap muka dengan para pastur yg  sepuh untuk sharing bersama. Komunikasi yang akrab ini mereka lakukan disampaing untuk  menghibur para pastur, juga merupakan tugas  selaku guru agama katolik.

Dalam sambutannya, Sri Wahyuningsih,Penyelenggara Katolik Kantor Kemenag Kota Surakarta,  menyampaikan ucapan terima kasih kepada pengurus KKG kota yg telah berupaya merencanakan dan melaksanakan kegiatan secara profesional.

Disamping itu, lanjutnya, hendaknya kegiatan ini di laksanakan secara terstruktur. Maksudnya, bisa diagendakan secara rutin.

Agustina Sri Paningsih pengawas tingkat SD pendidikan Katolik kemenag Kota Surakarta ,  juga  menghimbau kepada guru-guru untuk lebih meningkatkan empat  kompetensi guru yaitu, paedagogik,  sosial,  kepribadian dan professional.

Dengan demikian, katanya, para guru dapat melayani anak didik secara benar, pasti dan pas sesuai dengan perkembangan psikologis, sosial,  keterampilan dan karakter anak bangsa yang beriman. Kegiatan outing class ini diikuti sedikitnya 70 guru katolik termasuk pengawas dan penyelenggara. (rma/bd)