Latih Siswa Untuk Hidup Bermasyarakat Dan Mandiri MAM Limpung Gelar Kegiatan MAPETA

Batang – Masa Pembekalan Anggota atau disingkat dengan (MAPETA) merupakan bentuk kegiatan yang memadukan dharma pendidikan, pengajaran, dan pengabdian kepada masyarakat sekaligus dalam satu kegiatan. Kegiatan ini rutin diadakan oleh MA Muhammadiyah Limpung diperuntukan bagi kelas XII sebagai bekal pengetahuan sebelum meninggalkan almamaternya. Dengan latar belakang dan motivasi yang berbeda setiap siswa, MAPETA memberikan manfaat yang signifikan terhadap kelangsungan pengabdian mereka, khususnya dalam bidang sosial, tahun ini kegiatan dilaksanakan selama tujuh hari menginap di rumah warga dari tanggal (25 – 31/05) yang lalu di dusun Kemiri desa Kepuh kecamatan Limpung. Setiap satu rumah terdiri tiga siswa (MIPA & IPS) tujuannya adalah untuk mengenalkan siswa cara bersosialisasi dan merasakan bagaimana sulitnya bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga, serta melatih siswa untuk berperan dalam kegiatan di masyarakat.

Kepala Madrasah Aliyah Muhamadiyah (MAM) Limpung Ahyaudin, dalam keteranganya mengatakan bahwa MAPETA merupakan program MA Muhammadiyah Limpung, bekerja sama dengan ALIVMA (Alumni Aktivis MAM Limpung). Kegiatan ini wajib diikuti oleh kelas XII setelah selesai melaksanakan ujian madrasah, dan merupakan salah satu syarat kelulusan.

“ Kegiatan memberikan manfaat yang signifikan terhadap kelangsungan pengabdian para siswa, khususnya dibidang sosial dimana  pelaksanaannya selama tujuh hari menginap di rumah warga,” kata Ahyaudin.

Dia juga menjelaskan tujuan kegiatan ini adalah untuk mengenalkan siswa cara bersosialisasi dan merasakan bagaimana sulitnya bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga, serta melatih siswa untuk berperan dalam kegiatan di masyarakat.

“ Kalau selama ini para siswa tinggal minta uang kepada orang tua, inilah saatnya mereka melihat kenyataan hidup yang sesungguhnya, bagaimana kerasnya usaha untuk memenuhi kebutuhan,” jelasnya.

Sementara itu salah satu guru MAM Limpung,  Hana Rizayanti dalam penjelasannya mengatakan bahwa dusun Kemiri yang digunakan untuk kegiatan ini merupakan sentra usaha mikro pengolahan bambu (cepon, irig, dan lain-lain). Maka siswa-siswi di sini diajarkan bagaimana cara mengolah bambu dengan baik sehingga diharapkan setalah kegiatan ini siswa-siswi terinspirasi dengan usaha mikro tersebut ataupun lainnya.

“ Selain menginap dan membantu wali asuh tempat yang mereka tinggali, para siswa juga diberikan materi kewirausahaan dan dunia kerja  seperti perbengkelan dan las, serta di malam harinya diberikan materi tentang kesiapan menempuh hidup baru pasca tamat sekolah,” kata Hana Rizayanti

Dia menambahkan bahwa kegiatan ini menurutnya, berbeda dengan bakti sosial yang titik perhatiannya kepada pembangunan yang bersifat fisik dan dapat dilihat perubahannya seketika itu juga, namun MAPETA titik perhatinnya adalah pada perubahan mental berfikir dan perilaku serta pengembangan siswa dan sistem yang ada di masyarakat yang bersifat non fisik, perubahan pola pikir siswa-siswi itu sendiri yang memberikan wawasan dan pengajaran tentang pendewasaan dan kematangan dalam menghadapi masa depan.

“ Diharapkan suatu saat nanti para siswa setelah lulus SLTA dan terjun ke masyarakat dimana pun dia berada dan apapun pekerjaan yang dijalankan, dia akan senantiasa berfikir secara objektif. Dalam pengambilan tindakan mengambil kebijakan senantiasa memperhatikan dari berbagai aspek dan sudut pandang,” pungkasnya. (Hana Rizayanti/Minarsih/Zy)