Lembaga Nonformal diminta sukseskan pemutakhiran data EMIS

Rembang — Diterapkannya aplikasi online pada pengisian Education Management Information System (EMIS) menuntut lembaga pendidikan keagamaan non formal melakukan pengisian data dengan valid dan tepat. Hal ini mengingat masih banyak ditemukannya data-data yang kurang pas, sehingga mengganggu kelancaran perencanaan program.

Demikian disampaikan oleh Kepala Bidang Pendidikan Diniyyah dan Pondok Pesantren Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah Sholikhin pada acara Sosialisasi Penguatan Pengolah Data Lembaga Pendidikan Keagamaan nonformal yang diselenggarakan di Hotel Puri, Jum’at (03/06).

Sholikhin menguraikan masih banyaknya permasalahan pengisian EMIS di daerah. Hal ini dipicu oleh pendataan EMIS PD-Pontren dan PAI sampai periode semester ganjil TP 2015/2016 yang masih menggunakan full format excel, masih banyak yang belum terisi lengkap, tidak konsisten dan pengirimannya sering terlambat.

“Saat ini kami tengah melakukan verifikasi dan validasi hasil update data semester ganjil tahun ajaran 2015/2016. Dan ini memerlukan waktu dan proses yang cukup panjang,” kata Sholikhin.

Lebih lanjut disampaikan, dalam pendataan semester genap, akan disiapkan aplikasi validasi desktop dan aplikasi online untuk mendukung pendataan emis PD-Pontren. “Kami sadar bahwa pengelola EMIS di tingkat Kankemenag Kab./Kota dan Kanwil Provinsi tidak dapat secara maksimal melakukan validasi data karena belum tersedianya tools validasi data yang memadai,” lanjutnya.

Oleh karena itu, dalam sosialisasi ini, diharapkan peserta yang merupakan operator Emis dapat menyukseskan pemutakhiran data Emis PD Pontren. “Kami minta kesadaran pengelola Emis, baik Pondok pesantren, TPQ maupun madrasah diniyyah untuk mensukseskan kegiatan pemutakhiran data EMIS ini,” tandasnya.

Penguatan PAI

Sementara dalam waktu yang sama, diselenggarakan sosialisasi penguatan pengolah data guru PAI pada sekolah umum yang diselenggarakan di Rumah Makan Warung Ndeso. Atho’illah meminta kepada para guru PAI agar program Simpatika yang telah dilaunching oleh Menteri Agama sejak 2015 lalu harus diisi dengan data yang valid. Menurutnya, data yang tepat akan menentukan perencanaan yang tepat pula. “Kami minta paling lambat tanggal 30 Juni, data Simpatika harus sudah clear,” tegas Atho’illah.

Sosialisasi diadakan dalam rangka memberikan pengetahuan tata cara mengisi aplikasi Sistem Informasi dan Manajemen Pendidik dan Tenaga Kependidikan pada Kementerian Agama (Simpatika) yang telah dilauncing Menteri Agama beberapa waktu lalu.

Kepada peserta, Atho’illah mengungkapkan keprihatinannya terhadap berbagai kasus yang sudah menimpa kalangan anak-anak. Hal ini menjadi tugas yang berat bagi guru PAI untuk menekan dan mencegah hal-hal serupa.

“Guru PAI mempunyai tugas yang sangat berat untuk membentuk siswa yang berkarakter, yang menjunjung tinggi ajaran Islam, sehingga hal-hal yang buruk seperti berbagai kejadian akhir-akhir ini tidak akan terjadi lagi,” pungkasnya.—(Shofatus Shodiqoh/gt)