Literasi Di Hari Santri

Surakarta – Memperingati hari santri yang jatuh pada hari ini, Senin (22/10) dan bulan bahasa serta menyongsong hari Sumpah Pemuda, MTsN Surakarta 1 menggelar berbagai lomba di bidang bahasa, seni , dan agama. Acara dimulai pukul tujuh dan diumumkan pukul tiga belas. Ada 16 cabang yang diperlombakan, yaitu: pidato bahasa Indonesia, pidato bahasa Inggris, pidato bahasa Arab, pidato bahasa Jawa, geguritan, puisi, story telling, newscaster, poster, mading, cerpen, kaligrafi, qiroah, rangking 1, adzan, dan sinopsis. Semua peserta lomba adalah siswa MTsN Surakarta 1.

Acara ini  bertema “Peningkatan Budaya Literasi Membentuk Generasi Milenial yang Berakhlaq Mulia”. Harapan ke depan, siswa MTsN Surakarta 1  menjadi generasi milenial yang berakhlaq mulia melalui budaya literasi.

“Jadilah generasi milenial yang mandiri, cinta bangsa, gemar membaca, dan berakhlak mulia. Kalianlah generasi penerus bangsa penentu masa depan. Selamat berlomba dan tunjukkan bakat kalian,” ungkap Kirno Suwanto saat membuka lomba untuk memotivasi peserta lomba.

Dalam kesempatan tersebut beliau juga membacakan Amanat Menteri Agama RI pada Upacara Hari Santri. Amanat tersebut memuat Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 tentang Hari Santri yang diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Peringatan Hari Santri merupakan wujud relasi harmoni antara pemerintah dan umat Islam, khususnya bagi kalangan kaum santri. Hari Santri sekaligus babak baru dalam sejarah umat Islam Indonesia.

Siswa MTsN Surakarta 1 sangat antusias dalam mengikuti berbagai cabang lomba. Mereka mempersiapkan diri semaksimal mungkin dengan banyak berlatih. Setiap kelas berharap bisa menjadi juara di setiap cabang lomba dan memboyong trophy bergilir juara umum.

“Hari Minggu pun kami masuk untuk latihan supaya juara,” tutur Galih, Ketua kelas 9FD2.

Untuk mengurangi unsur subjektivitas, panita mengundang juri dari luar madrasah.

“Kami bekerja sama dengan MGMP MTs se- kota Surakarta, MGMP Seni Budaya SMA Kota Surakarta, serta ahli yang kompeten di bidangnya dari dosen ISI dan pekerja seni teater,” ungkap Rais Hidayat, Waka Kurikulum merangkap panitia. (rma/bd)