Luruskan niat, Haji hanya untuk Allah

Wonosobo – Mengawali kegiatan penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun 2015, Kantor Kementerian Agama Kab. Wonosobo menyelenggarakan Sosialisasi Kebijakan Haji pada pagi hari ini (18/3) bertempat di Masjid Agung Wonosobo. Dalam kesempatan itu Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah, Drs. H. Ahmadi, M.Ag hadir sebagai pembicara, didampingi oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kab. Wonosobo, Drs. H. Muhtadin, MSI.

Dalam penyelenggaraan Ibadah Haji, pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama berkewajiban memberikan pembinaan sekaligus informasi penting yang berkaitan dengan pelayanan ibadah haji. Hal ini dimaksudkan untuk memperlancar ibadah para jamaah yang membutuhkan biaya, tenaga, dan waktu yang cukup berat. Dengan diadakannya kegiatan ini paling tidak memberikan informasi awal kepada jamaah calon haji sehingga memberikan gambaran yang jelas tentang penyelenggaraan Ibadah Haji ini.

Dihadapan 641 orang jamaah calon haji Kabupaten Wonosobo, Kakanwil menyampaikan bahwa meskipun penyelenggaraan Ibadah Haji merupakan tugas pokok Kementerian Agama namun dalam pelaksanaannya dilaksanakan secara bersama-sama dengan beberapa kementerian dan lembaga serta masyarakat.

Harapan jamaah haji tidak lain adalah bisa menjadi haji mabrur. Untuk itu pemerintah memberikan pelayanan, perlindungan dan bimbingan kepada jamaah agar bisa melaksanakan ibadah haji dengan lancar dan sukses. Beberapa indikator keberhasilan penyelenggaraan haji antara lain, seluruh jamaah yang terdaftar bisa diberangkatkan ke tanah suci, seluruh jamaah memperoleh akomodasi, transportasi dan konsumsi, seluruh jamaah bisa melaksanakan wukuf, bagi yang sakit disafariwukufkan, yang meninggal dibadalhajikan dan seluruh jamaah yang telah berhaji dipulangkan kembali ke tanah air kecuali yang meninggal dunia.

Disampaikan pula, terkait dengan perubahan dan proses pembangunan di Masjidil Haram, Menteri Agama meminta kepada pengelola Masjidil Haram untuk menambah/memasang papan petunjuk di sekitar Masjidil Haram. Hal ini sangat dibutuhkan untuk meminimalisir jumlah jamaah yang tersesat jalan.

Tentang pembiayaan ibadah haji, dijelaskan bahwa komponen BPIH dibagi menjadi dua jenis, Direct Cost dan Indirect Cost (optimalisasi). Direct Cost untuk transportasi, living cost, dan biaya selama di madinah. Sedangkan biaya selain ketiga jenis tersebut dibayar dengan dana optimalisasi yang apabila ditotal hampir senilai 50 juta rupiah.

Kepada jamaah diingatkan bahwa sebagai Dhuyufurrahman, maka sudah menjadi kewajiban untuk melaksanakan ibadah ini secara murni untuk Allah, “Janganlah dicampuri dengan niat-niat lain yang akan mengurangi kesempurnaan nilai ibadah haji. Luruskan niat, kuatkan tekad dengan menata hati untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah swt dengan disertai usaha untuk memahami manasik haji, sehingga tujuan memperoleh haji mabrur bisa tercapai”, pesan Ahmadi mengakhiri pembinaannya. (fat)